TAKENGON, KABARGAYO | Pasca bencana hidrometeorologi banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah beberapa waktu lalu, sebanyak 62 gedung madrasah dari jenjang RA, MI, MTs, hingga MA dilaporkan mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 12 madrasah mengalami kerusakan berat.
Hingga pertengahan September 2026, puluhan madrasah tersebut belum juga mendapatkan perbaikan, sehingga proses belajar mengajar terpaksa dilakukan dengan sistem relokasi agar siswa tetap bisa mengikuti pelajaran.
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Tengah membenarkan kondisi tersebut. Kepala Kantor Kemenag Aceh Tengah, Wahdi, melalui Kasi Pendidikan Madrasah, Syahria, mengatakan bahwa data 62 madrasah rusak tersebut memang belum tertangani hingga kini.
Menurut Syahria, sebelumnya pada bulan Juni lalu telah dilakukan pendataan untuk program revitalisasi madrasah. Pendataan dilakukan oleh tim dari pusat berinisial ZB, melalui perwakilannya di Aceh Tengah berinisial F bersama rombongan dan konsultan.
“Kakankemenag sudah melakukan video conference dengan pengurus di pusat dan dijanjikan program revitalisasi madrasah akan dilaksanakan menjelang akhir tahun 2026,” ujar Syahria di kantornya, Kamis (17/09/26).
Menindaklanjuti hal tersebut, Kemenag Aceh Tengah kemudian mengumpulkan 62 kepala madrasah untuk rapat dan melaporkan data kerusakan secara lengkap.
Dalam rapat itu, dari Kantor Kementerian Agama menitipkan amanah kepada seluruh kepala madrasah, agar tidak melayani bila ada permintaan uang dari berbagai pihak terhadap pelaksanaan proyek Revit.
Namun seiring waktu berjalan, status program tersebut dikatakan oleh pengurus telah berubah dari pusat. Dari program yang semula Revitalisasi (Revit), berubah menjadi program SBSN (Surat Berharga Syariah Negara).
“Pihak kami di Kankemenag diminta oleh pengurus untuk mengisi data madrasah yang rusak di aplikasi SBSN melalui link https://simpro2.kemenag.go.id/,” terang Syahria.
Kendalanya, lanjut Syahria, link aplikasi tersebut hingga kini tidak bisa diakses karena membutuhkan konfirmasi login menggunakan password. Pihak Kemenag Aceh Tengah mengaku sudah berulang kali meminta password tersebut kepada pihak SB maupun F, namun belum ada tindak lanjut.
“Kami sudah menyampaikan bahwa aplikasi tersebut tidak bisa diakses, kami juga meminta password untuk login, dan kalau situsnya yang bermasalah harap diperbaiki. Tapi baik perwakilan di pusat maupun yang mewakili di sini hanya menanggapi dengan kata ‘ya’, dan hingga hari ini tetap tidak bisa diakses,” ungkapnya.
Kondisi ini memicu kekecewaan dan keresahan dari banyak kalangan kepala madrasah, apa lagi diketahui program Revit telah beringsut ke SBSN yang berbeda aturan.
“Kami semua sangat kecewa, terutama para kepala madrasah dan murid-murid yang selama ini sudah berharap. Kenapa dari Revit berubah menjadi SBSN. Yang saya tahu kalau untuk program SBSN, salah satu syaratnya adalah memiliki akta tanah. Sementara lokasi madrasah di Aceh Tengah banyak tercatat sebagai hibah dari berbagai pihak, sehingga tidak memiliki akta,” jelas Syahria.
Hingga kini para kepala madrasah terus mempertanyakan kejelasan kapan gedung madrasah akan diperbaiki. Terlebih, program revitalisasi untuk sekolah negeri di bawah Dinas Pendidikan sudah berjalan.
Mereka berharap ada kejelasan dan kepastian dari pemerintah pusat terkait bantuan revitalisasi gedung madrasah yang rusak, mengingat proses belajar mengajar sudah tidak produktif pasca bencana.
Penulis, JURNALISA