Opini Oleh;
Isra Masjida
Olah rasa dan perjuangan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) hari ini kerap berada di persimpangan yang sunyi. Di satu sisi, ada amanah profesionalisme dan jiwa pengabdian yang melekat di pundak. Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata dari realitas ekonomi yang menghantam tanpa kompromi: laju inflasi yang mengikis daya beli, kenaikan harga kebutuhan hidup, biaya pendidikan anak, serta pendapatan yang terasa stagnan.
Sebagai sesama ASN yang juga bernapas dan berproses di dalam ruang-ruang kerja birokrasi daerah, saya merasakannya sendiri. Sangat manusiawi jika ada masa-masa di mana semangat perlahan menguap. Demotivasi seolah menjadi “wabah” yang diam-diam menjangkiti: “Untuk apa terus memeras pikiran jika keadaan dan apresiasinya terasa sama saja?”
Namun, di tengah himpitan dan riuk keluhan tersebut, tulisan ini hadir bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai cermin dan pencerah bagi diri saya sendiri—serta rekan-rekan sejawat—untuk merenungkan kembali tempat kita berpijak. Sebab, di tengah ketidakpastian materi dan dinamisnya aturan manusia, kita membutuhkan sandaran nilai yang jauh lebih kokoh.
Di titik itulah kita diingatkan kembali: sejak pertama kali mengucapkan sumpah janji jabatan, profesi ini sejatinya adalah sajadah panjang pengabdian.
## Ketika Profesi Adalah Tempat Bersujud
Memaknai profesi sebagai sajadah panjang berarti meletakkan setiap tugas kantor sebagai bagian dari penghambaan. Setiap berkas yang kita selesaikan, setiap pelayanan yang kita permudah, dan setiap ketertiban sistem yang kita jaga, pada hakikatnya adalah gerak-gerik sujud kita di luar shalat.
Ketika kita memandang birokrasi semata-mata sebagai tempat mencari penghidupan materi, maka lonjakan inflasi dan ketidakpastian kebijakan akan dengan sangat mudah meruntuhkan motivasi kita. Namun, ketika kita menyadari bahwa setiap lembar tugas adalah hamparan sajadah pengabdian kepada Allah SWT, maka rasa lelah itu berganti makna.
Surah Al-Insyirah ayat 7–8 menyodorkan kompas yang begitu bening dalam menata irama kerja kita:
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
## Mengukir Amal Muntijah di Atas Sajadah Tugas
Prinsip fa-idza faraghta fanshab—imbauan untuk terus melatih dan melelahkan diri dalam kebaikan—mengajarkan kita untuk melahirkan amal muntijah (karya yang nyata, produktif, dan berdaya guna).
Amal muntijah seorang ASN bukan diukur dari sekadar menggugurkan absensi atau hadir secara fisik di belakang meja. Ia diukur dari sejauh mana kehadiran kita mampu memotong kerumitan, menghadirkan solusi, dan memberi manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Sebab, bukankah muara kebahagiaan sejati seorang manusia adalah ketika keberadaannya berdaya guna bagi sesama?
Memelihara integritas dan kinerja terbaik di tengah wabah demotivasi memang tidak mudah—bahkan terasa sunyi. Namun, justru di sanalah letak ujian keikhlasan sujud kita. Rasa lelah yang lahir dari kerja keras yang tulus tidak akan menguap menjadi kesia-siaan; ia bertransformasi menjadi ketenangan jiwa dan jejak keberkahan umur yang tak bisa dinilai dengan angka ganjaran.
## Merawat Barakah dan Kemerdekaan Jiwa
Di zaman sekarang, tetap tenang dan bahagia adalah hal yang kian mahal dan sulit dicari. Banyak orang berusaha membelinya dengan uang—melalui hiburan, kesenangan instan, atau pelarian sementara. Namun, ketenangan semacam itu tak jarang berakhir pada kegelisahan baru; begitu “pesta” usai, rasa cemas pun hadir kembali.
Di sinilah letak rahasia keberkahan (barakah) yang kerap terabaikan ketika kita terlalu fokus menghitung keterbatasan gaji atau tunjangan. Ketenangan hidup yang hakiki justru lahir dari tertunaikannya kewajiban secara jujur.
Ketika sebuah amanah publik diselesaikan tanpa menzalimi orang lain dan tanpa menyisakan rasa bersalah, seseorang dikaruniai rezeki terbesar: tidur yang terlelap tanpa beban—bahkan meski bukan di atas kasur yang empuk. Tugas yang tuntas tidak menjadi punca kecemasan, melainkan melapangkan dada. Kesehatan keluarga yang terjaga, anak-anak yang tumbuh penuh kebaikan, serta terhindarnya diri dari marabahaya adalah wujud rezeki tak ternilai yang tidak bisa dibeli dengan nominal apa pun.
Meluruskan muara harapan (wa ilā rabbika farghab) pada akhirnya menjadi kunci kemerdekaan jiwa seorang ASN. Ketika kita menaruh seluruh orientasi harapan hanya kepada Allah, kita tidak akan mudah goyah oleh minimnya pujian, tidak mudah terseret arus keputusasaan kolektif, dan tidak akan menggadaikan integritas hanya demi menutup keterbatasan materi.
## Menjaga Keberkahan Umur Pengabdian
Masa purnabakti kelak akan menandai berhentinya kita dari jam kerja kantor. Lembar-lembar SK akan tersimpan rapi dalam lipatan sejarah pribadi. Namun, apa yang telah kita bentangkan di atas sajadah pengabdian ini—setiap ketulusan, senyum pelayanan, dan amal muntijah yang kita tanam—akan terus melintasi batas waktu sebagai tabungan kebaikan yang abadi.
Tekanan ekonomi adalah realitas yang harus kita hadapi dengan bijak dan ikhtiar yang baik. Namun, jangan biarkan tekanan itu merampas keindahan sujud kita dalam bekerja. Mari kita kembali merapatkan barisan, menyegarkan niat, dan menjadikan setiap jam kerja sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.
Sebab pada akhirnya, kepada-Nyalah seluruh amanah ini akan kita pertanggungjawabkan, dan hanya kepada-Nyalah kita menggantungkan seluruh harapan.