160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Ngok, Tape Enti Pakek Tu(Boleh, Tapi Jangan Terlalu)

Opini – Isra Masjida

Dalam tatanan pergaulan dan adab masyarakat Gayo, ada sebuah frasa sederhana namun berdaya tawar sangat tajam: enti pakek tu. Secara harfiah, ia menjadi pengingat agar seseorang tidak membubuhkan kata “tu” (terlalu/sangat) pada sifat, tindakan, maupun perasaannya.
Ini bukan sekadar urusan tata bahasa lokal, melainkan sebuah filter sosial sekaligus panduan spiritual agar manusia senantiasa berjalan di jalur tengah (wasathiyah).

Prinsip ini berakar kuat pada nilai Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 143) yang menetapkan umat ini sebagai wasathan—masyarakat pilihan yang adil dan seimbang. Menjadi seimbang berarti berdiri tegak di pertengahan. Sesuatu yang melampaui takaran, betapa pun baik niat utamanya, akan bergeser dari keutamaan menjadi celaan atau kelemahan.

Dinamika kehidupan modern kerap mempertontonkan bagaimana kegagalan menakar diri merusak tatanan psikologis dan sosial. Dalam ranah emosi, misalnya, rasa gembira (galak) dan cemas (macik) adalah fitrah manusiawi.

Namun, saat gembira berubah menjadi galak-tu, ia menjelma euforia yang memabukkan, memicu gaya hidup hedonis demi gengsi, hingga menerabas batas syariat. Sebaliknya, ketika kecemasan membengkak menjadi macik-tu, ia berubah menjadi kebiasaan overthinking yang melumpuhkan daya juang dan mengikis rasa tawakal.

Al-Qur’an secara presisi mengingatkan batas emosi ini dalam Surah Al-Hadid ayat 23, agar manusia tidak berduka berlebihan atas hal yang luput dan tidak melampaui batas saat diberi kegembiraan. Pesan ini dipertegas oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. yang menasihatkan untuk mencintai maupun membenci secukupnya saja, sebab perasaan yang berlebihan selalu menyimpan potensi kehancuran.

Pola ini berlanjut pada dimensi intelektual dan karakter. Menjadi sosok yang pane (pintar) adalah karunia. Tetapi ketika kecerdasan itu dirasuki ego hingga menjadi pane-tu, ia merosot menjadi kepintaran yang diobral: sok tahu, merasa paling benar, dan gemar merendahkan sesama.

Nabi Muhammad SAW memberikan garis tegas bahwa kesombongan pada hakikatnya adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Sejalan dengan itu, Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menegaskan bahwa kekhilafan yang melahirkan rasa hina di hadapan Allah jauh lebih baik daripada ketaatan yang memunculkan keangkuhan.
Ironisnya, sikap pane-tu ini sering kali berhadapan dengan fenomena ogoh-tu—sebuah kebebalan yang dipelihara.

Jika keadaan ogoh (belum tahu) adalah batas kemanusiawian yang wajar dan dimaklumi, maka ogoh-tu adalah penolakan sengaja terhadap petunjuk. Ini adalah bentuk kebekuan hati yang disinggung Al-Qur’an (QS. Al-A’raf: 179) tentang mereka yang memiliki nurani dan pemikiran namun enggan menggunakannya untuk memahami kebenaran.

Di sisi lain, ketidakmampuan menetapkan batasan juga dapat merusak nilai kebaikan dan kepedulian itu sendiri. Sikap jeroh (baik) tanpa ketegasan akan bermutasi menjadi jeroh-tu—kebaikan naif tanpa boundaries yang membuat seseorang rentan dimanfaatkan oleh ketidakberesan karakter orang lain.

Keteladanan Umar bin Khattab r.a. memberikan pelajaran berharga melalui ketegasannya: ia bukan seorang penipu, tetapi ia juga tidak bisa ditipu oleh penipu. Umar mengajarkan bahwa kebaikan harus berjalan bersiringan dengan ketegasan dan kecerdasan sikap.

Demikian pula dengan kepedulian sosial. Ketika empati bergeser menjadi peduli-tu, ia menyeberangi garis privasi dan berubah menjadi kekepoan yang mengganggu. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tanda kebaikan Islam seseorang terletak pada kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tak berguna baginya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan menyebutkan bahwa sibuk dengan hal yang bukan porsinya adalah tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba.

Beberapa contoh di atas sejatinya hanyalah serpihan kecil dari penerapan kaidah enti pakek tu. Pada hakikatnya, prinsip ini melingkupi seluruh ruang hidup manusia—mulai dari dinamika di dalam keluarga, relasi profesional di tempat kerja, hingga pergaulan luas di tengah masyarakat. Ia adalah panduan universal tentang pentingnya menjaga takaran dalam setiap peran yang kita jalankan.

Di sinilah kita memahami betapa halusnya perangkap yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai Talbis Iblis—sebagaimana dikupas oleh Imam Ibnu al-Jauzi. Iblis kerap gagal menyesatkan manusia melalui kemaksiatan terbuka, sehingga ia mengubah strateginya dengan membelokkan perkara-perkara baik menjadi berlebihan.

Kebaikan yang dibumbui imbuhan -tu pada dasarnya adalah bentuk tipu daya halus yang membuat seseorang merasa sedang berbuat baik, padahal ia sedang terjebak dalam keangkuhan, kebebalan, atau kelalaian.

Sebagaimana disimpulkan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, godaan terbesar selalu berkisar antara membuat manusia kurang atau membuatnya melampaui batas. Oleh karena itu, kaidah enti pakek tu bekerja sebagai terapi sosial yang sangat mendesak untuk membedah krisis pergaulan di Tanoh Gayo hari ini.

Esensi pesannya sederhana namun menghujam: ngok (boleh), tetapi enti pakek tu (jangan terlalu). Boleh gembira tapi jangan lupa diri, boleh cemas tapi jangan hilang tawakal, boleh pintar tapi jangan sok tahu, boleh baik tapi jangan tanpa batasan, dan boleh peduli tapi jangan campur tangan.
Memegang prinsip ini adalah jalan untuk membongkar tipu daya ego, menakar diri, dan menjaga adab.

Ala kulli hal, semoga Allah karuniakan kita hati yang lembut dan lapang untuk terus berusaha istiqomah di pertengahan dalam segala dinamika sosial dan kehidupan.*

iklan