160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Mengurai Seni Pengasuhan Qurani: Dari Kedekatan Jiwa Menuju Keteladanan Rasa

Oleh – Isra Masjida

Sebagai umat yang Allah turunkan petunjuk dan panduan lengkap kehidupan, sejatinya kita telah dibekali dengan peta jalan beserta seluruh petunjuk teknis di berbagai aspek. Maka, ketika mengalami benturan, kebuntuan, atau saat langkah terasa kehilangan arah, hal pertama yang semestinya kita lakukan adalah duduk tenang, membuka mushaf, dan mencari jawaban di sana.

Pun begitu hakikatnya tentang sulitnya menjadi orang tua hari ini. Di tengah ketidakpastian zaman, tekanan ekonomi, dan lelah yang sering kali dibawa pulang dari tempat kerja, para orang tua terus berjuang memberikan yang terbaik demi masa depan anak-anaknya. Tidak ada yang meragukan besarnya rasa cinta, doa yang melangit di sepertiga malam, serta pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Setiap niat baik dan ketulusan itu adalah fondasi suci dalam sebuah keluarga.

Namun, betapa sering di antara kita mengalami benturan yang sangat keras dengan kenyataan. Ada saat-saat orang tua menghadapi kebuntuan dan merasa mati akal menghadapi anak-anaknya, atau bahkan merasa telah kehilangan arah. Niat baik yang begitu besar berbenturan dengan dinding sunyi di kamar anak remaja mereka—orang tua merasa sudah mengalirkan seluruh nasihat terbaik, sementara anak justru makin menarik diri dan rumah perlahan kehilangan kehangatannya.

Maka, Al-Qur’an-lah jawabannya. Ketika kita kebingungan mencari benteng pertahanan bagi keluarga, Kitab Suci ini menyodorkan sebuah cermin jernih yang begitu memikat dalam Surah Luqman.

Betapa indah cara Al-Qur’an menuntun manusia. Panduan pengasuhan abadi yang diabadikan di dalamnya tidak lahir dari lisan seorang nabi, raja berkuasa, atau bangsawan yang dipuja karena rupanya. Al-Qur’an justru memilih untuk merekam jejak hikmah dari Luqman—seorang pria kulit hitam, seorang penggembala sederhana yang jauh dari glamor duniawi.

Melalui kisah ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa nilai tertinggi seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh ukuran fisik, kedudukan sosial, atau harta benda. Di balik kesederhanaannya, Allah mengaruniakan kepada Luqman al-hikmah: kebijaksanaan jiwa yang mendalam.

Kebijaksanaan itu pun tidak hadir di ruang hampa, melainkan lahir dari keteguhan iman dan betapa dekatnya Luqman dengan Sang Pencipta. Karena kedekatan itulah, Allah memberinya bukan sekadar petunjuk, melainkan furqan—ketajaman membedakan yang hak dan yang batil.

Inilah muara refleksi yang sangat berharga bagi kita para orang tua masa kini. Kebijaksanaan dalam mendidik ternyata harus diawali dari upaya mendisiplinkan diri untuk dekat dengan Allah. Nasihat yang sampai ke jiwa anak bukanlah rekaman kata-kata yang diulang-ulang saat kita marah, melainkan buah manis dari keimanan dan keteladanan ibadah yang disaksikan anak-anak kita setiap hari.

Dari kedalaman jiwa itulah, Luqman menghadirkan seni komunikasi yang melampaui zaman—sebuah pendekatan yang mengutamakan penguatan rasa sebelum menyentuh logika.

Kebijaksanaan itu bermula dari hal yang sering kali luput saat kita lelah: kelembutan sapaan. Luqman tidak mengawali nasihatnya dengan wajah tegang atau deretan larangan. Ia merawat ruang dialog itu dengan kalimat yang merengkuh: “Ya bunayya”, wahai anakku sayang.

Sapaan ini muncul berulang kali di ayat 13, 16, dan 17. Sapaan ini bukan sekadar pemanis kata di awal pembicaraan. Setiap kali hendak menanamkan pesan baru, Luqman selalu menegaskan kembali ikatan kasih itu. Ia memastikan anaknya merasa dicintai dan aman terlebih dahulu, sebelum telinganya diserahi beban arahan.

Anak-anak remaja kita hari ini tumbuh dalam ekosistem digital yang sangat menuntut, dikepung krisis identitas dan riuhnya penilaian orang lain. Ketika rumah mampu menghadirkan kehangatan emosional ini, nasihat orang tua yang niatnya sudah sangat baik itu baru akan memiliki tempat untuk hinggap.

Setelah mengikat hati anaknya, Luqman mulai menata susunan pesan. Nasihat pertamanya adalah tentang tauhid—mengenalkan siapa Allah dan menanamkan akar kesadaran jiwa.

Anak-anak hari ini adalah generasi yang kritis. Mereka membutuhkan pemahaman mendalam atas pertanyaan “mengapa” before dengan sukarela menjalankan “bagaimana”. Ketika kesadaran spiritual dan rasa cinta kepada Sang Pencipta sudah menghujam ke dalam dada, aturan dan ibadah yang diajarkan orang tua tidak lagi dirasakan sebagai ancaman atau beban luar, melainkan kebutuhan jiwa.

Luqman pun mendidik anaknya dengan kejujuran yang realistis. Saat mengajak pada kebaikan, ia secara terbuka mengingatkan anaknya untuk bersabar menghadapi ujian yang pasti akan datang. Ia tidak membuai anaknya dengan janji bahwa jalan kebaikan itu selalu mulus. Kejujuran rasional ini melatih ketangguhan mental anak, membuat mereka merasa dihargai kedewasaannya dan siap melangkah menghadapi kerasnya dunia tanpa merasa dibohongi.

Hingga akhirnya, bimbingan akhlak dituntun Luqman dalam tindakan yang sangat konkret: bagaimana menjaga pandangan mata agar tidak sombong, bagaimana mengatur tempo melangkah, dan bagaimana melunakkan nada suara. Di tengah riuhnya budaya flexing dan cara berinteraksi yang kian kasar di ruang siber, bimbingan yang membumi ini menjadi kompas karakter yang sangat utuh.

Refleksi ini sama sekali tidak hadir untuk mengabaikan peluh dan lelah yang telah dikeluarkan para orang tua. Justru ini adalah sebuah undangan hangat untuk menyempurnakan perjuangan panjang tersebut dengan kembali membaca peta jalan yang telah Allah sediakan.

Luqman Al-Hakim mengingatkan kita bahwa mendidik anak bukanlah tentang memamerkan otoritas atau memenangkan perdebatan di dalam rumah, melainkan tentang menyalurkan hikmah yang dipetik dari kedekatan kita dengan Allah. Nasihat yang benar-benar didengar bukanlah tentang seberapa keras nada suara ditegaskan atau seberapa panjang instruksi yang diucapkan, melainkan tentang seberapa utuh kehangatan rasa dan pancaran iman itu mampu menyapa hati anak, sebelum ia akhirnya dengan sukarela menyerahkan akalnya untuk dituntun bersama ke jalan yang benar.

Ala kulli hal, menjadi orang tua adalah perjalanan panjang ibadah hati, ibadah raga, dan ibadah rasa. Rutenya pasti akan dipenuhi oleh onak, duri, bebatuan tajam, bahkan jurang yang terkadang melukai hati, melelahkan tubuh, dan mengombang-ambingkan rasa dalam pergulatan emosi yang silih berganti. Namun insyaAllah, pada ujung perjalanan ini segalanya akan berbuah kebaikan dan kebahagiaan jika kita terus berpegang teguh pada tuntunan-Nya.

Semoga kelak kita dan seluruh keturunan kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an—mereka yang dihimpun kembali bersama anak cucunya di dalam surah At-Tur ayat 21: “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka…”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Berita Terkait
iklan