160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Ketika Rumah Kehilangan Teduhnya

OpiniIsra Masjida

Ada rasa asing yang perlahan merayapi rumah-rumah di Tanah Gayo. Ini bukan lagi tentang kabut subuh yang turun di lereng-lereng kebun atau angin tebal yang melintasi Danau Laut Tawar, melainkan jarak yang kian lebar di antara sepasang manusia yang dulu mengikat janji untuk saling menguatkan.

Jika kita singgah ke meja peradilan di Takengon maupun Simpang Tiga Redelong, ada ratusan lembar berkas perceraian yang membisu di sana. Berdasarkan rekapitulasi tren perkara, hingga pertengahan tahun ini saja, estimasi perkara perceraian yang terdaftar di Aceh Tengah diperkirakan telah menembus 330 hingga 350-an berkas, sementara di Bener Meriah berkisar antara 210 hingga 230-an berkas.

Tujuh dari setiap sepuluh perkara itu lahir dari keberanian sekaligus kelelahan seorang istri yang melayangkan Cerai Gugat. Namun, angka-angka itu sejatinya hanyalah riak kecil di permukaan. Di sudut-sudut kampung kita, berapa banyak lagi ikatan yang sebenarnya telah lama rapuh—bertahan dalam sepi, atau berpisah diam-diam tanpa tersentuh register negara?

Fenomena ini mengetuk nurani kita untuk berhenti sejenak dan merenung. Sebab, ketahanan suatu daerah sejatinya tidak pernah berdiri di atas megahnya bangunan fisik, melainkan di atas kokohnya rumah-rumah tangga di dalamnya. Ketika satu per satu pintu rumah di kampung kita kehilangan teduhnya, ada tiang tatanan sosial kita yang ikut merapuh. Mengapa fondasi yang dulu kita bangun dengan doa dan adat kini begitu mudah retak?

Keretakan rumah tangga hampir tak pernah lahir dari satu patahan mendadak. Ia merupakan akumulasi dari lelah yang tak sempat disapa, kebingungan peran, dan pergeseran cara kita memandang hakikat pernikahan itu sendiri.

Di era hari ini, menjadi kepala keluarga membawa beban ekonomi dan rasa cemas yang tak mudah dilalui. Ketika seorang lelaki goyah atau kehilangan arah dalam menopang dapur, ada guncangan harga diri yang sangat dalam. Tanpa kedewasaan emosional untuk mengungkapkan kebingungannya, rasa tertekan itu sering kali menjelma menjadi sikap pasif, penarikan diri ke warung-warung kopi hingga larut, atau membawa kebisuan ke dalam rumah. Mereka hadir di bawah satu atap tanpa interaksi hangat dengan anak dan istri—serumah tapi tidak sejiwa, bersama tapi hati saling menjauh.

Di sisi yang lain, perempuan Gayo tumbuh dengan etos kerja dan ketangguhannya yang luar biasa. Namun, ketika ketangguhan itu harus menanggung sendirian beban hidup yang timpang, batas kelelahan jiwa akhirnya rubuh. Keadaan kian rumit ketika riuk kehidupan modern menyusup lewat layar gawai.

Paparan media sosial yang serba molek sering kali melahirkan dahaga validasi dan pembandingan yang semu. Ketika apa yang dibaca dan dilihat di lini masa dijadikan tolok ukur utama, perjuangan kasat mata sang suami di rumah terasa selalu kurang. Rasa syukur perlahan menguap, menggantikannya dengan rasa ketidakpuasan yang mengikis kesabaran.

Ketika kebisuan suami bertemu dengan kelelahan istri, pintu dialog di dalam rumah pun terkunci rapat. Di tengah keheningan yang rapuh itulah, ujian komitmen menyusup pelan. Rasa sepi yang tak tersapa kerap memberi ruang bagi hadirnya pihak ketiga. Padahal, perselingkuhan sejatinya bukanlah akar masalah utama; ia hanyalah gejala dari rumah yang sudah terlebih dahulu melapuk dari dalam karena suami dan istri berhenti saling mendengarkan.

Kerapuhan ini terjadi karena kita perlahan melupakan hakikat dasar pernikahan. Islam dan tatanan hidup yang beradab tidak pernah merancang rumah tangga yang ideal sebagai ruang yang steril dari ujian atau perdebatan. Rumah tangga yang ideal bukanlah rumah yang tak pernah dilanda masalah, melainkan rumah yang memiliki daya lentur untuk pulih—tempat di mana suami dan istri merasa aman untuk menjadi jujur dan rentan tanpa takut dihakimi, serta menyelesaikan perbedaan dengan menyerang masalahnya, bukan merendahkan pribadinya.

Pernikahan sejatinya adalah arena fastabiqul khairat—ruang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Di dalam ruang sakral ini, kekurangan pasangan bukanlah alasan untuk berpaling, melainkan ladang pahala untuk melatih kesabaran dan saling melengkapi. Sebaliknya, kelebihan pasangan adalah punca kesyukuran yang menambah semangat untuk berbuat baik.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita agar tidak terburu-buru menghakimi pasangan hanya karena satu celah kekurangan: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai satu perangainya, niscaya ia ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim). Ketika cara pandang ini hilang, rumah tangga berubah dari tempat beralas kasih menjadi panggung adu gengsi.

Ketika mencoba melangkah lebih dalam ke ruang perenungan diri, kita patut bertanya: mengapa kecakapan untuk saling memahami dan mengayomi ini terasa begitu rumit kita jalani hari ini?

Bisa jadi, salah satu muaranya bermula dari ruang-ruang kecil di rumah masa lalu kita sendiri. Falsafah Edet Gayo sejatinya telah menitipkan peta jalan pengasuhan yang amat indah: merajut pribadi yang gigih bekerja (lisik), cermat dan cekatan (bidik), memiliki daya tahan jiwa yang mengayomi (mersik), serta bijaksana dalam bersikap (cerdik). Namun, ketika menatap perjalanan ke dalam diri, luput kita sadari bahwa ada bagian dari ikhtiar pengasuhan yang mungkin belum sepenuhnya tuntas.

Tanpa bermaksud menyalahkan niat baik orang tua kita, bisa jadi selama ini anak-anak lelaki kita terlalu sering dilindungi dari latihan memikul tanggung jawab dan rasa empati sejak dini, sehingga ketika dewasa, mereka rentan canggung dan gagap memimpin saat badai kehidupan datang.

Sementara pada anak-anak perempuan, ketangguhan fisik dan kemandirian yang ditempa begitu kuat, bisa jadi belum dibersamai secara utuh oleh pembekalan kematangan emosional tentang cara mengelola rasa, bersabar, dan menghormati proses perjuangan pasangan. Tanpa sadar, kita mengajari anak-anak kita cara bertahan hidup, tetapi kerap terlewat mengajari mereka cara membangun ruang dialog yang hangat saat hati sedang terluka.

Dari kegagalan merawat kesalingan inilah, dampak keretakan itu akhirnya melahirkan luka yang paling hening: anak-anak yang tumbuh tanpa rasa aman dan kehilangan keteladanan di rumahnya sendiri. Mereka berisiko membawa kebingungan emosional tersebut hingga dewasa, lalu tanpa sengaja mengulangi ikatan yang rapuh di masa depan mereka.

Sebab itulah, menyadari kerapuhan ini bukanlah panggilan untuk saling menuding atau menanti siapa yang harus berubah lebih dulu. Pemulihan sebuah rumah selalu dimulai dari keberanian untuk ibda’ binafsik—berbenah dari diri sendiri. Menundukkan ego bukanlah tanda kekalahan, melainkan bukti kedewasaan jiwa untuk merendahkan gengsi, menyapa lebih awal, dan mendengarkan tanpa pertahanan diri.

Kita perlu kembali pada keinsyafan paling sederhana: bahwa saat pertama kali melangkah ke jenjang pernikahan, kita tidak sedang memilih manusia sempurna tanpa cela. Kita sedang berjanji untuk menerima seorang manusia sepaket lengkap—bersama seluruh kelebihan yang patut disyukuri, dan segala kekurangan yang menuntut kesabaran untuk saling melengkapi. Ketika suami dan istri sudi melapangkan dada untuk saling menerima paket utuh tersebut, di situlah kehangatan yang sempat hilang mulai menemukan jalannya kembali.

Ikhtiar pembenahan batin ini tentu membutuhkan dukungan kesadaran kolektif dari lingkungan sekitar kita. Lembaga adat Sarak Opat dan para tokoh agama di kampung perlu kembali hadir sebagai penengah dan tempat mengadu yang merangkul sebelum retak menjadi belah.

Pemerintah daerah pun dipanggil untuk menghadirkan perlindungan sosial dan ruang ekonomi yang menentramkan keluarga. Lebih dari itu, di rumah dan di sekolah-sekolah, kita dipanggil untuk memutus rantai masalah ini lewat pengasuhan generasi muda yang lebih beradab dan berkarakter.

Pada akhirnya, rumah tangga dibangun bukan untuk menuntut kesempurnaan, melainkan tempat berlabuh yang membawa kedamaian dan rasa aman bagi seluruh penghuninya. Semoga apa yang kelak kita wariskan kepada anak-cucu adalah keteladanan dan nilai-nilai kebaikan—bukan gumpalan luka masa lalu yang terus membelit generasi berikutnya. Hanya dengan cara itulah, rumah-rumah di Gayo akan kembali menemukan teduhnya.

InsyaAllaah. Biidznillaah.

iklan