160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Aceh Tengah Bersih: Antara Misi Bupati Haili Yoga dan Amanah Kekhalifahan

Opini, Isra Masjida (ASN di Aceh Tengah)

Sebagai aparatur, visi “Aceh Tengah Bersih” telah menjadi napas dalam keseharian saya. Kewajiban bersih-bersih lingkungan yang rutin kami jalani bukan sekadar formalitas, melainkan ikhtiar kolektif untuk menjaga tanah titipan ini. Namun, di luar rutinitas kedinasan tersebut, pikiran saya seringkali berkelana lebih jauh. Saya menyadari bahwa misi mulia ini baru akan terwujud secara paripurna jika kebijakan tersebut meresap hingga ke pintu rumah dan meja makan kita masing-masing.

Di balik seragam yang saya kenakan, saya adalah seorang ibu. Di rumah, sayalah pemegang otoritas penuh atas apa yang masuk ke dapur, apa yang tersaji di meja makan, dan—yang paling krusial—ke mana sisa-sisa dari konsumsi tersebut bermuara. Saya merenungi, bahwa peran sebagai ibu ini sangat vital bagi keberlangsungan alam dan menjadi dukungan yang paling mendasar terhadap misi Bapak Bupati Haili Yoga dalam mewujudkan Aceh Tengah Bersih. Karena kita semua tentu mahfum bahwa gunungan sampah di TPA bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan akumulasi dari setiap pilihan yang kita buat di rumah setiap hari.

Tentang Amanah, Khalifah, dan Tanggung Jawab

Dalam pandangan iman, setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah amanah. Menjadi ‘khalifah” bukanlah perkara memimpin orang banyak, melainkan bagaimana kita mengelola titipan terkecil di tangan kita sendiri. Sampah yang kita hasilkan adalah catatan amal kita. Apakah kita meninggalkan jejak yang merusak, atau justru jejak yang memberi maslahat?

Kita tentu memahami bahwa dunia ini fana. Kerusakan, pelapukan, dan hilangnya keasrian adalah sunnatullaah—keniscayaan zaman yang tak mungkin kita hentikan. Namun, di titik inilah tanggung jawab kita sebagai hamba diuji. Kita memang tak bisa menghentikan perubahan, tetapi kita bisa memilih untuk tidak mempercepat kerusakannya. Ini adalah ikhtiar untuk meninggalkan warisan alam yang tingkat kerusakannya lebih sedikit daripada jika kita abai begitu saja.

Sebab sebagai daerah agraris, tanah adalah napas kehidupan kita. Jika kita terus “mencekoki” tanah yang memberi makan anak-anak kita dengan plastik dan segala rupa jenis ‘styrofoam’ —yang butuh ratusan tahun untuk terurai—maka kita sesungguhnya sedang mengubur masa depan anak cucu kita dengan tangan kita sendiri.

Melampaui Sekadar TPA

Sebagai bagian dari pemerintah, saya menaruh hormat yang mendalam atas upaya pengelolaan TPA yang selama ini menjadi fondasi kebersihan kita. Namun, kita semua memiliki harapan agar perjalanan menuju “Aceh Tengah Bersih” terus berevolusi ke jenjang yang lebih visioner. Kita menantikan masa di mana pengelolaan sampah tidak lagi sekadar pembuangan, tetapi sebuah sistem cerdas yang mampu memilah, mendaur ulang, dan memusnahkan sisanya dengan cara yang ramah terhadap lingkungan.

Ini adalah kerinduan kita bersama. Kita percaya, dengan dukungan seluruh elemen, daerah kita akan mampu berinvestasi pada teknologi yang mengubah sampah dari “beban” menjadi “manfaat”. Sebagai bagian dari pemerintah, saya melihat ini sebagai ruang tumbuh yang sangat mungkin kita capai bersama, sebuah langkah maju yang akan menjadikan daerah kita pionir bagi pengelolaan lingkungan yang modern dan sadar masa depan.

Langkah Kecil dari Dapur Sendiri

Tentu, transisi menuju gaya hidup ramah lingkungan adalah sebuah proses belajar bersama. Baik bagi saya di rumah maupun bagi rekan-rekan pelaku UMKM kuliner, langkah ini memang memerlukan penyesuaian. Namun, bukankah setiap rupiah yang kita alokasikan untuk menjaga kelestarian adalah sedekah bagi bumi? Saat saya memilih untuk meminimalisir penggunaan plastik, saya tidak hanya sedang memilah sampah, tetapi sedang menanamkan nilai keberlangsungan kepada anak-anak saya. Saya sedang mengajarkan mereka bahwa kebersihan adalah cermin ketaatan kepada Sang Pencipta.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah cermin bagi diri saya sendiri. Tentang abdi negara yang mengabdi pada visi daerah, dan tentang seorang ibu yang ingin memberikan warisan terbaik bagi keluarga. “Apakah hari ini saya sudah menjadi khalifah yang amanah di dapur saya sendiri? Sudahkah saya menjadi teladan bagi anak-anak saya dalam memperlakukan alam? Dan, apakah setiap tindakan kecil saya hari ini akan meringankan beban bumi yang kita huni?”.

Jika setiap rumah di Takengon mulai memilah potensi produk sampah dari dapur, dan setiap pelaku kuliner memilih keberlangsungan daripada sekadar kemudahan, maka “Aceh Tengah Bersih” akan tumbuh bukan sebagai slogan, melainkan sebagai wujud syukur yang nyata. Mari kita mulai dari rumah kita sendiri, dari langkah kecil hari ini, untuk menjaga titipan Tuhan demi generasi yang akan datang.*

KABARGAYO.CO.ID ~ KRITIS, INDEPENDEN & TERPERCAYA

You might also like