Oleh Isra Masjida
Dalam perjalanan membersihkan jiwa untuk meraih qalbun Salim, para guru kita sering mengingatkan bahwa kita kerap kali hanya mewaspadai satu bentuk kerusakan hati: kebekuan dan pengerasan jiwa yang membuat seseorang kehilangan kepekaan.
Padahal, jika direnungkan secara mendalam, penyakit hati kerap bermain di antara dua kutub yang saling bertolak belakang namun berpangkal dari masalah yang sama: hilangnya ketundukan kepada kebenaran.
Satu sisi adalah kutub hati yang membatu, sementara sisi lainnya adalah kutub hati yang terlalu rapuh dan paranoid.
Guru-guru kita sering menjabarkan kutub yang pertama sebagai hati yang membatu dan kebal nasihat. Di sini, kita menjumpai figur manusia dengan dinding pertahanan jiwa yang begitu tebal.
Hati mereka digambarkan telah kehilangan fleksibilitas moralnya, bagaikan telapak kaki yang menebal dan mati rasa karena terus-menerus menginjak kerikil tajam, sehingga ia kehilangan kepekaan untuk merasakan sentuhan lembut.
Al-Qur’an merekam kondisi ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 74, di mana Allah SWT berfirman: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras.”
Orang dengan tipe hati ini sulit sekali ditembus oleh nasihat. Sentuhan kebaikan sebesar apa pun akan memantul tanpa meninggalkan bekas.
Mereka cenderung apatis, kehilangan kepekaan sosial, tidak lagi berempati pada penderitaan sesama, dan merasa dirinya selalu benar. Sebagaimana pula diingatkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda bahwa Allah SWT tidak mendengarkan doa dari hati yang lalai dan lengah.
Dalam realitas sosial hari ini, kita dapat menemukan kutub ini mewujud pada figur-figur yang gemar menebar hujatan tanpa empati, komentar komentar penghakiman, bersikap masa bodoh terhadap penderitaan orang lain, dan menutup rapat telinga dari kritik konstruktif.
Mereka merasa kebal hukum sosial karena merasa berada di pihak yang kuat. Akibatnya, ruang publik dipenuhi oleh perdebatan yang dingin, tanpa rasa, dan dipenuhi ego sektoral yang merusak kebersamaan dan keterbukaan sosial dalam harmoni.
Bergeser ke kutub seberang, para ulama juga memperingatkan adanya fenomena yang tampak rapuh namun sama-sama berbahaya.
Kutub ini terekam dengan sangat presisi dalam Surah Al-Munafiqun ayat 4, ketika Allah SWT melukiskan psikologi kaum munafik melalui firman-Nya: “Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka.”
Ulama menjelaskan bahwa ini adalah gambaran hati yang baperan secara akut, hidup dalam kecemasan dan paranoia kronis.
Karena batin mereka tidak selaras dengan nilai kejujuran—seperti sabda Nabi SAW mengenai tanda orang munafik yang jika berbicara berdusta dan jika berjanji mengingkari—mereka hidup dalam ketakutan abadi bahwa topeng mereka akan segera terbongkar.
Dalam kehidupan nyata, kutub ini melahirkan masyarakat yang mudah tersinggung secara massal, gemar melakukan interpretasi berlebihan terhadap hal hal umum, dan selalu merasa menjadi korban dari setiap opini yang berbeda.
Ruang publik menjadi bising oleh ketakutan untuk berbicara, karena setiap kata dan sikap dianggap sebagai ancaman personal.
Lalu, bagaimana para guru membimbing kita untuk mengobati kedua kutub ekstrem ini agar kembali pada titik keseimbangan? Al-Qur’an dan Sunnah ternyata menawarkan resep penyembuhan yang sangat komprehensif.
Untuk mengobati hati yang membatu, obatnya adalah pelembutan jiwa melalui mengingat kematian, sebagaimana disinggung dalam Surah Al-Hadid ayat 16: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun…”
Rasulullah SAW juga menyarankan agar seseorang yang merasakan kekerasan hati memperbanyak ziarah kubur dan mengusap kepala anak yatim, sebab sentuhan fisik pada kemanusiaan dan perenungan akhir hidup adalah penawar paling mujarab untuk melenturkan kebekuan batu karang di dada.
Sementara itu, untuk mengobati hati yang penuh wasangka dan baperan, para ulama mengajarkan bahwa obatnya terletak pada istighfar dan kejujuran niat.
Paranoia lahir dari rasa bersalah yang tidak diselesaikan. Obatnya bukanlah marah pada dunia, melainkan membersihkan batin melalui tobat yang jujur, merujuk pada firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 110: “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ketika batin seseorang bersih dari kemunafikan tersembunyi, rasa takut dan curiga berlebihan akan menguap dengan sendirinya, digantikan oleh ketenangan jiwa yang utuh.
Sebab pada akhirnya, sebagaimana hadist hadist agung dari Baginda Rasululllaah SAW pesan penjelasan dari ulama; kesehatan jiwa yang sejati bukan terletak pada seberapa kuat kita menolak teguran, atau seberapa cemas kita mendengar seruan, melainkan pada kelapangan dada untuk terus berintrospeksi dalam naungan kejujuran.
Ala kulli hal,
Semoga Allah karuniakan kita hidayah dan TaufiqNya dalam segala keadaan hingga mampu menjaga keseimbangan jiwa dalam naungan iman.*