Oleh: Isra Masjida (Guru Ngaji) ASN di Aceh Tengah
Malam sudah sangat larut. Sayup-sayup suara jangkrik menandakan dunia sedang beristirahat dengan tenang. Namun, bagi banyak ibu hari ini, malam sering kali menjadi waktu di mana dada terasa bergemuruh. Sambil melangkah pelan di lorong rumah, pandangan kita kerap tertumpu pada satu sudut: celah di bawah pintu kamar anak remaja kita. Di sana, seberkas cahaya biru tipis masih memancar kokoh, menembus kegelapan.
Kita semua tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam sana. Anak remaja kita sedang rebahan, lekat menatap layar gawainya. Menatap video yang meluncur tanpa henti, atau tenggelam dalam riuhnya permainan di dunia maya. Ritme hidup mereka perlahan jungkir balik; malam menjadi siang, aktivitas fisik menguap, dan kasur menjelma menjadi pusat semesta mereka.
Sebagai ibu, kita tidak tinggal diam. Segala bentuk “senjata” pengasuhan pasti sudah kita keluarkan. Kita pernah merayu dengan tutur kata selembut sutra, pernah juga meledak dalam amarah yang tak terbendung karena cemas, hingga membuat aturan-aturan ketat. Namun, mengapa usaha itu kerap mental? Mengapa nasihat kita hanya dianggap angin lalu oleh ego remaja mereka? Di titik inilah, ada rasa tidak berdaya yang menyergap, lalu perlahan berubah menjadi bisikan tajam di dalam dada: *”Apakah aku telah gagal menjadi seorang ibu?”*
Mari kita peluk erat-erat rasa lelah itu, lalu kita tatap kenyataan ini dengan jernih. Kita tidak sedang berhadapan dengan sekadar hobi penurun penat, melainkan sebuah ancaman nyata bagi masa depan mereka.
### Ancaman Nyata di Balik Layar
Coba perhatikan remaja kita hari ini. Di usia di mana tubuh mereka seharusnya berkembang dengan produktif, yang kita lihat justru pemandangan yang memilukan. Ritme tidur yang acak-acakan membuat mereka kronis kekurangan waktu istirahat.
Tubuh mereka kekurangan nutrisi penting karena pola makan yang asal kenyang—bahkan banyak yang rela menahan lapar berjam-jam hanya karena enggan mengalihkan pandangan dari layar permainan. Akibatnya, secara fisik mereka rapuh, secara akademis konsentrasinya merosot, dan secara psikologis mereka memiliki ledakan emosi yang tidak stabil.
Namun, ada kecemasan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kesehatan fisik. Layar gawai sedang merancang bom waktu untuk masa depan peradaban kita. Hari ini, kita menyaksikan fenomena remaja lelaki yang tenggelam oleh *game*, seolah energinya habis dieksplorasi dalam pertempuran fiktif tanpa berkeringat.
Akibatnya, mereka tumbuh menjadi generasi yang miskin inisiatif dan rapuh menghadapi beratnya tantangan zaman.
Di kamar sebelah, kita mendapati remaja perempuan yang tenggelam dalam drama-drama romantisme yang khayali. Standar hidup mereka bergeser, tersita demi memikirkan kesempurnaan fisik, menatap *season* demi *season* drama demi memimpikan pangeran ideal yang jauh dari realitas.
Semua tontonan dan permainan itu kelak akan menjadi standar timbangan mereka dalam kehidupan nyata. Kita cemas menatap masa depan: akan seperti apa jadinya jika sekelompok lelaki tumbuh dewasa tanpa penegasan tanggung jawab, lalu bersanding dengan perempuan yang kepalanya dipenuhi khayalan semu? Entah bagaimana nasib kehidupan berumah tangga mereka kelak, jika fondasi jiwanya sudah rapuh sejak dari kamar tidur masa remaja.
### Menatap Cermin Diri
Pertarungan ruang psikologis ini teramat berat. Gawai dan dunia digital hari ini dirancang oleh para pakar teknologi mutakhir dengan sistem yang begitu adiktif, sengaja memanipulasi hormon dopamin untuk mengikat perhatian anak-anak kita yang jiwanya masih dalam transisi mencari jati diri. Lantas, apa yang bisa kita lakukan jika dinding kamar anak-anak kita terlalu tebal untuk ditembus oleh kata-kata kita sendirian?
Sebelum melangkah lebih jauh keluar rumah, mari kita menatap ke dalam cermin diri kita sendiri terlebih dahulu. Sangat perlu bagi kita sebagai ibu untuk mulai “selesai dengan diri kita sendiri”. Perbaikan ini mustahil terjadi jika kita belum bisa mengelola kestabilan emosi dan merawat kematangan ruhiyah kita lewat ibadah serta pemahaman agama yang lebih baik.
Bagaimana mungkin kita menuntut anak-anak kita melepaskan layar kaca, jika kita sendiri masih menjadi pelaku yang tangannya tak pernah jauh dari *gadget*? Berjam-jam sekadar menggulir layar melihat tren yang tak ada habisnya, berburu promo di marketplace, atau ikut tenggelam dalam drama picisan yang menjauhkan kita dari realitas.
Sudah saatnya kita mengubah prioritas. Tidak lagi sibuk menghabiskan energi untuk menuntut keadaan atau meratapi hal-hal sepele. Kita harus meluaskan kapasitas jiwa kita, agar mampu menjadi jangkar yang kokoh di tengah badai zaman ini.
### Menjadi “Pintu Pulang” yang Aman
Semuanya bermula dari kesediaan kita untuk menjeda riuhnya dunia batin kita. Mulailah dengan menata kembali kedekatan kita kepada Sang Pemilik Jiwa; mempertebal kualitas ibadah, dan memperdalam pemahaman agama sebagai penunduk ego. Saat kedekatan itu terbangun, kestabilan emosi akan lahir dengan sendirinya. Kita akan belajar bernapas lebih dalam sebelum merespons tingkah anak, melatih diri untuk tidak lagi reaktif-meledak melainkan menghadirkan pemakluman yang penuh empati.
Kita belajar menyadari bahwa anak kita sedang sakit ditawan zaman, bukan sedang sengaja melawan ibunya. Dari kelapangan jiwa itulah, akan mengalir cinta yang lebih lembut, sebuah penerimaan yang luas yang membuat anak merasa didekap, bukan sedang dihakimi.
Sebab, kita harus berani jujur mengakui: menjadi anak di masa ini sama sulitnya dengan menjalani peran orang tua yang kita rasa. Anak-anak kita adalah sasaran tembak dari industri digital yang tak punya hati. Mereka adalah korban. Maka pertanyaannya kembali kepada kita; akankah kita hanya diam, marah, dan terus menyalahkan keadaan?
Tentu tidak. Setelah internal diri kita benahi, barulah kita ubah strategi komunikasi di dalam rumah. Remaja kini tidak bisa lagi didikte atau diinterogasi. Ketika mereka keluar dari kamar dalam kondisi letih setelah seharian “terjebak” di dunia maya, jadilah “pintu pulang” yang aman.
Sambut mereka dengan kehangatan yang riil: sediakan makanan kesukaan mereka, ajak mengobrol ringan tanpa membahas gawai, dan biarkan mereka tahu bahwa seasing apa pun dunia luar mengubah mereka, pelukan ibu di rumah tidak pernah berubah.
### Gerakan Berjamaah di Ruang Sosial
Langkah berikutnya, kita harus berani menjadi bagian dari sistem perbaikan secara bersama (*berjama’i*). Menyelamatkan anak kandung kita sendiri tidak akan pernah cukup jika lingkungan sosialnya masih rentan.
Hari ini kita tergabung dalam banyak ruang: grup arisan, grup alumni, hingga grup pengajian. Maka, mari kita ubah isi dari setiap pertemuan tatap muka kita. Jangan lagi biarkan ruang-ruang itu hanya berisi obrolan hampa tanpa arah. Mari kita isi pertemuan-pertemuan tersebut dengan diskusi bergizi: bagaimana membawa kembali “pulang” anak-anak kita ke dunia nyata.
Sebagai ibu yang sudah selesai dengan dirinya, mari kita ambil peran sebagai inisiator. Kita gandeng tangan para ibu di lingkaran terdekat untuk merajut komunitas dan kegiatan positif yang melibatkan anak-anak remaja kita. Sadarilah bahwa mereka memiliki energi masa muda dan adrenalin yang besar. Jika kita tidak mewadahinya dengan kegiatan nyata yang menantang—seperti olahraga, petualangan alam, organisasi kreatif, hingga proyek sosial—maka dunia digital siap menampung energi itu dengan candu tiruannya. Kita harus merebut mereka kembali dengan menyediakan wadah agar mereka punya tempat untuk berkeringat, mengeksplorasi bakat, dan menelurkan karya nyata.
### Mengetuk Jalur Langit
Kalaulah anak-anak kita hari ini sedang tersesat dan lupa arah jalan pulang, maka hal paling logis untuk kita lakukan terlebih dahulu adalah membawa diri kita sendiri pulang ke rumah. Pulang ke dalam peran-peran keibuan yang sejati, yang menjadi amanah utama kita di hadapan-Nya. Barangkali, selama ini memang kitalah yang juga telah berjalan terlalu jauh keluar dari sana.
Dan ruang terbaik untuk membuktikan bahwa kita telah benar-benar “pulang” adalah di sepertiga malam, saat dunia sedang sunyi-sunyinya. Di waktu mulia itulah, alihkan seluruh sisa energi kecemasan kita menjadi ketukan di jalur langit melalui tahajjud.
Lalu, masuklah ke kamar anak kita dengan senyap. Tatap wajah polosnya saat tertidur—wajah yang sama yang dulu pernah kita timang dengan sejuta harapan. Usap rambutnya dengan lembut, lalu titipkan doa-doa terbaik langsung ke Pemilik Hatinya. Di atas sajadah yang terhampar, mintalah kepada Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati untuk menjemput kembali jiwa anak kita yang sedang tertawan di dalam dunia digital itu.
Di hadapan Allah, semakin kita akui bahwa kita tak mampu, insya Allah justru pertolongan-Nya akan nyata terasa. Bukankah doa seorang ibu adalah peluru yang tak pernah meleset?
Perjalanan mendidik anak remaja di era digital ini bukanlah lari cepat yang hasilnya terlihat esok hari. Ini adalah jalan maraton yang panjang, yang membutuhkan napas keikhlasan yang longgar dan kesabaran yang berlapis-lapis.
Untuk seluruh ibu yang malam ini masih terjaga merawat cemas, mari kita tidak sekadar menangis dalam pasrah. Mari kita hidupkan diskusi-diskusi bermakna di setiap perkumpulan kita, lalu saling menggenggam tangan dalam aksi nyata dan doa. Kita bawa diri kita pulang ke hakikat peran keibuan yang sejati, dan kita percaya bahwa dengan cinta yang konsisten, lingkungan yang mendukung, serta doa yang tak putus, anak-anak kita akan pulang ke dunia nyata dengan selamat.
Semangat berjuang, Ibu. Kita berjalan bersama-sama.*