160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Menanam Akar, Menjemput Cahaya: Mengembalikan Marwah Pendidikan di Era Digital

Oleh: Isra Masjida 

Belakangan ini, saya sering terdiam menyimak kegelisahan yang sama dari banyak rekan pendidik. Ada nada getir yang terasa di ruang-ruang kelas kita; sebuah realitas di mana kurikulum tampak megah dalam teori, namun menemui tantangan yang amat pelik saat dipraktikkan di lapangan. Kita bicara tentang jargon literasi dan numerasi yang mentereng, namun di akar rumput, kemampuan analisa dan minat baca dasar anak-anak kita justru terasa kian tertinggal.

Ada sebuah tanya yang mengusik nurani: entah apa fokus pendidikan kita saat ini? Jika dibilang membangun karakter, rasanya tatanan sistem dan materi yang ada terkadang justru menguji ketangguhan karakter itu sendiri. Kita seolah sedang berkejaran dengan capaian di atas kertas, sementara substansi manusianya—pembentukan jiwa dan life skill mereka—seolah terpinggirkan.

Kebutuhan akan karakter ini kian mendesak saat kita menyadari anak-anak tumbuh dengan dunia di genggaman. Era digital ini tak ubahnya seekor ular. Ia mengandung “bisa” yang mematikan—berupa candu layar dan degradasi moral—namun di saat yang sama, tepat di jantung tantangannya, ia menyimpan “penawar” berupa hamparan ilmu pengetahuan yang luas. Tanpa ketangguhan jiwa yang ditanamkan sejak dini, kita seolah membiarkan mereka berinteraksi dengan tantangan zaman tanpa bekal “antibodi” yang memadai.

Di sisi lain, kejujuran memaksa kita melihat bahwa sering kali, energi pendidikan kita terserap habis pada pemenuhan aspek manajerial. Bahkan ketika orang tua dan guru sudah berupaya maksimal, mereka kerap menemui keterbatasan ruang gerak karena tata kelola yang lebih menitikberatkan pada prosedur teknis dan pemenuhan dokumen formal daripada penguatan esensi. Pendidikan bukanlah urusan laporan semata; ia adalah urusan menyalakan cahaya di dalam jiwa.

Pada hakikatnya, tujuan akhir dari pendidikan dalam Islam adalah melahirkan generasi Ulul Albab. Secara sederhana, Ulul Albab adalah sosok manusia yang memiliki keseimbangan sempurna antara zikir dan pikir; mereka yang mampu menggunakan kecerdasan akalnya untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, lalu mengubah pemahaman itu menjadi tindakan yang membawa manfaat.

Dalam kegelisahan ini, sejatinya kearifan lokal Gayo bisa dijadikan kompas melalui filosofi: “Lisik (Tekun), Bidik (Tangkas), Mersik (Tegar), dan Cerdik (Bijaksana)”. Bagi masyarakat Gayo, keempat pilar ini bukanlah sekadar jargon kosong atau dongeng masa lalu yang usang. Ia adalah warisan Endatu yang menjadi suluh yang tetap relevan sepanjang zaman untuk menuntun kita melahirkan generasi “Ulul Albab”.

Terutama pilar Mersik, yang menggambarkan raga yang gagah sebagai cerminan dari mental yang tangguh; sebuah ketahanan diri agar anak-anak tidak mudah hancur diterpa arus zaman. Pendidikan harus kembali pada esensinya: proses organik menanam akar, bukan sekadar menempelkan hiasan plastik di atas batang yang rapuh.

Namun, seluruh ikhtiar kita membangun pilar-pilar karakter ini hanya akan menemukan arahnya yang sejati jika kita kembali pada Al-Qur’an. Ia adalah Syifa (obat) bagi segala kegelisahan hati dan Hudan (petunjuk) bagi setiap arah yang keliru. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
*”Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan kaum yang lain dengannya.”* (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan sebuah hukum sejarah bahwa kemuliaan dan keberhasilan sebuah generasi sangat bergantung pada interaksi mereka dengan Al-Qur’an. Jika sebuah kaum menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan hidup dan sumber ilmu, maka Allah akan meninggikan kedudukan mereka. Sebaliknya, jika Al-Qur’an diabaikan, maka keberkahan akan dicabut dari kehidupan mereka. Al-Qur’an adalah ruh yang menghidupkan setiap pilar pendidikan kita.

Bersebab, pendidikan adalah kerja semesta. “It takes a village to raise a child”—butuh orang sekampung untuk mendidik seorang anak. Orang tua sebagai penanam utama akar akidah di rumah dan guru sebagai pengobar api karakter di sekolah adalah “sepasang sayap”.

Namun, kita pun harus menyadari bahwa masyarakat dan sistem adalah “udara” tempat anak-anak kita mengepakkan sayapnya. Jika udaranya hampa atau penuh polusi administratif, sayap sekuat apa pun akan sulit membawa terbang. Oleh karena itu, kita tidak sedang mencari siapa yang abai, melainkan mengajak semua pihak untuk kembali pada porsi terbaiknya.

Hanya dengan kepakan yang selaras, dibimbing oleh cahaya Al-Qur’an, anak-anak kita akan mampu terbang tinggi menjalani takdir versi terbaik yang telah Allah siapkan. Akar Tauhid yang kokoh adalah satu-satunya jaminan agar pohon kehidupan mereka tidak tumbang saat badai zaman datang menyapu segala yang tampak megah namun rapuh di dalamnya.

Mari kita renungkan kembali perumpamaan indah yang Allah abadikan:
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit…” (QS. Ibrahim: 24)

Pada akhirnya, tugas kita bukanlah mencetak anak-anak yang hanya pandai mengisi lembar jawaban ujian, melainkan menyiapkan jiwa-jiwa yang tetap sujud saat dunia sedang berdiri dengan angkuhnya. Karena esensi pendidikan bukan tentang seberapa tinggi mereka terbang, tapi tentang seberapa kuat akar mereka menghujam ke bumi; agar saat badai berhenti, mereka masih teguh berdiri sebagai manusia yang hamba, bukan sekadar angka-angka dalam laporan administratif.*

KABARGAYO.CO.ID ~ KRITIS, INDEPENDEN & TERPERCAYA

You might also like