Opini
Oleh; Isra Masjida (ASN Aceh Tengah)
Dalam hiruk-pikuk dunia yang menuntut kecepatan, seringkali kita terjebak dalam pola pikir bahwa sholat adalah jeda di tengah kesibukan. Kita bergerak dari satu urusan ke urusan lain, lalu “berhenti sejenak” untuk sujud. Namun, bagi jiwa yang benar-benar beriman, logika ini sejatinya terbalik. Hidup yang sesungguhnya adalah perjalanan dari satu waktu sholat ke waktu sholat berikutnya. **Seolah-olah, seluruh hiruk-pikuk dunia hanyalah aktivitas menunggu untuk kembali menghadap-Nya.**
Ketika kita mulai memandang sholat sebagai sekadar interupsi, di situlah bibit penyakit **Wahn** (cinta dunia dan takut mati) mulai tumbuh. Seringkali, penyakit ini datang dengan halus melalui tipu daya niat. Kita bermudah-mudah menunda sholat karena menganggap apa yang sedang dilakukan adalah “ibadah” juga.
Namun, kita perlu waspada terhadap hakikat amalan. Memang benar, ada amalan yang tampak duniawi namun bernilai akhirat karena niatnya. Sebaliknya, banyak yang terlihat seperti amalan akhirat, namun sejatinya hanya amalan duniawi karena niatnya telah belok. **Sholat tepat waktu adalah jangkar yang menjaga niat kita agar tidak hanyut; ia adalah cara kita menegaskan kembali bahwa di atas segala riuh rendah urusan harian, Allah tetaplah yang utama.**
Di sisi lain, kita harus jujur bahwa kadang hidup terasa sedemikian berat. Masing-masing dari kita sedang berjuang, bahkan seringkali merasa hampir tenggelam saat berenang dalam takdir dan ujian keadaannya masing-masing. Adalah sangat manusiawi jika kemudian muncul rasa lelah, keluh, dan kesah yang menyesakkan dada. **Ada hari-hari di mana langkah kita terasa amat berat, dan jiwa kita terlalu lelah untuk terus berpacu dengan tuntutan keadaan.**
Dalam kondisi inilah, sholat bukan lagi sekadar kewajiban formal, melainkan **sebaik-baik pertemuan**. Sholat adalah waktu di mana kita menghadap Dia yang Maha Mendengar segala keluh kesah tanpa menghakimi, dan Dia yang Maha Mengabulkan semua harap serta permintaan. Ketika dunia menutup pintunya bagi kita, sholat adalah pintu yang selalu terbuka lebar bagi seorang hamba untuk menumpahkan segala bebannya.
Lebih jauh dari sekadar kewajiban, sholat adalah **jamuan ruhani** dan **perjumpaan kasih** yang akrab antara hamba dengan Penciptanya. Bayangkan betapa tidak eloknya kita saat undangan untuk bermunajat dengan Sang Penguasa Alam Semesta telah berkumandang, namun kita justru sengaja mengabaikannya demi urusan makhluk. Ketika kita menunda sholat, sadarkah kita bahwa secara tidak langsung kita sedang membiarkan Sang Khalik—sumber segala kemudahan—menunggu di waktu sisa dari kelelahan duniawi kita? **Padahal, mungkinkah solusi dari kerumitan yang sedang kita hadapi itu justru dititipkan-Nya tepat di atas sajadah yang kita tunda?**
Kita pula seringkali merasa telah berbuat banyak, namun di hadapan Allah nanti, seluruh jerih payah kita sangat bergantung pada satu kunci utama: **Sholat**. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
> *”Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika sholatnya rusak, maka sungguh ia telah gagal dan merugi.”* (HR. Tirmidzi).
>
Maka, saudaraku, mari kita tanamkan kembali dalam kesadaran ruhani kita bahwa menunggu waktu sholat adalah bentuk kesiagaan iman sekaligus penawar lelah bagi jiwa. Jika kita mampu menanamkan prinsip bahwa **”kita hidup untuk menunggu sholat”**, maka setiap detik yang kita lalui akan bernilai ibadah yang murni. **Setiap peluh dalam mencari nafkah, setiap letih dalam mengurus keluarga, dan setiap upaya dalam kebaikan akan terasa lebih ringan karena kita tahu ada “pemberhentian teduh” yang telah dijadwalkan oleh Allah lima kali sehari.**
Pada akhirnya, kita harus menyadari hakikat perjalanan manusia: **kita semua sedang berjalan pulang menuju Allah.** Setiap detik nafas kita adalah langkah kaki menuju ke haribaan-Nya. Dalam perjalanan pulang yang panjang ini, sangat tidak masuk akal jika kita mengaku sedang menuju kepada-Nya, namun di sepanjang jalan justru menomorduakan-Nya demi pernak-pernik dunia yang fana.
Jangan biarkan kesibukan menipu kita untuk menunda pertemuan rindu dengan-Nya. Jangan biarkan urusan yang sementara menghalangi pertemuan dengan Yang Maha Kekal. Karena hanya dengan mendatangi-Nya tepat waktu, kita memastikan bahwa perjalanan pulang kita tidak akan tersesat dan setiap lelah kita akan berujung pada keridhaan-Nya.
Semoga Allah senantiasa mengaruniakan kita taufik dan pertolongan agar mampu menjalankan titahNya didalam segala keadaan.
*Robbanaa laatuzigh Quluubanaa ba’daidz hadaytanaa wahablanaa min ladunkarohmah innaka antal wahhab.