160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Revitalisasi SMPN 29 Takengon Rp2,017 Miliar Dikejar Waktu, Terancam Molor dan Progres Masih 25 Persen

TAKENGON, KABARGAYO | Pelaksanaan Program Revitalisasi Sekolah di SMP Negeri 29 Takengon, Kabupaten Aceh Tengah bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 dengan pagu anggaran sebesar Rp2.017.000.000 menjadi perhatian.

Proyek dilaksanakan secara swakelola berdasarkan informasi papan proyek tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 14 Mei hingga 14 September 2026 atau selama 150 hari.

Program revitalisasi ini merupakan bagian dari upaya pemulihan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana alam pada 2025.

Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan tersebut berasal dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

Pantauan wartawan di lokasi, 28 Juli 2026, menunjukkan aktivitas pembangunan masih berlangsung di sejumlah titik. Para pekerja terlihat melakukan perakitan besi sebagai persiapan pemasangan balok atas, sementara di sisi lain beberapa pekerja masih memasang dinding bata pada bangunan baru.

Paket revitalisasi meliputi rehabilitasi bangunan lama berupa penggantian atap seng, plafon, keramik, pintu, dan jendela. Selain itu, rumah dinas kepala sekolah juga ikut direhabilitasi. Sementara pembangunan baru mencakup dua ruang kelas, satu ruang perpustakaan, ruang kepala sekolah yang terintegrasi dengan ruang guru, serta ruang kantor.

Salah seorang pekerja di lokasi, Saparuddin, mengatakan bahwa pekerjaan menghadapi sejumlah hambatan teknis yang dinilai cukup berpengaruh terhadap kelancaran pembangunan.

“Kendala utama kami adalah air. Selama ini kami mengambil air dari gunung menggunakan selang. Kalau hujan deras, air sering mati dan kami harus menunggu satu sampai dua hari sampai air mengalir kembali,” ujarnya.

Selain persoalan pasokan air, ia juga menyebut distribusi material bangunan beberapa kali mengalami keterlambatan. Menurutnya, kondisi akses jalan menuju lokasi yang licin dan berlumpur menyebabkan kendaraan pengangkut material, termasuk batu bata, tidak selalu dapat mencapai lokasi tepat waktu.

“Kadang material habis karena mobil pengangkut terlambat datang. Jalannya kalau hujan cukup sulit dilalui,” tambahnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat waktu pelaksanaan pekerjaan terus berjalan. Meski demikian, hingga berita ini ditulis aktivitas pembangunan masih berlangsung dan para pekerja tetap menyelesaikan pekerjaan sesuai tahapan konstruksi yang sedang berjalan.

Warga Serule yang namanya enggan disebut mengatakan, bangunan sekolah itu diminta dikerjakan secepatnya karena mengingat anak-anak Serule membutuhkan lokasi yang permanen untuk belajar.

“Kondisinya begitu masih, sekitar 25 persen diduga progresnya. Pertanyaannya apakah selesai di bulan September 2016 nanti,” tanya warga kepada Wartawan.

Sebagai proyek yang menggunakan dana APBN, pelaksanaan revitalisasi sekolah diharapkan tetap mengedepankan prinsip tepat mutu, tepat waktu, tepat biaya, serta akuntabel. Penyelesaian proyek sesuai jadwal menjadi harapan masyarakat mengingat fasilitas tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar pascabencana.

Sampai berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Kepala SMP Negeri 29 Takengon selaku pelaksana swakelola, serta pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah mengenai progres pekerjaan, mekanisme pengawasan, serta langkah yang dilakukan untuk memastikan proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal.

Penulis, JURNALISA

KABARGAYO.CO.ID ~ KRITIS, INDEPENDEN & TERPERCAYA

You might also like