TAKENGON, KABARGAYO | Tanah Linge penuh dengan kisah penting untuk beradapan Gayo hari ini, esok dan seterusnya kedepan. Linge mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat wilayah tengah Aceh.
Saat ini Linge tengah “sakit” akibat bencana besar yang menerpa dan menimpa sebagian besar warganya. Ada kampung yang hilang dibawa air. Ada ratusan keluarga yang kehilangan harta bahkan nyawa.
Ditengah kebangkitan warga, beberapa pekan lalu Linge diusikan dengan kedatangan alat berat yang mengatasnamakan Normalisasi sungai. Alat berat bernama “Excavator” ini berdalih membantu warga dengan bertopeng mengeruk hasil bumi Linge. Kita semua diam.

Diduga yang datang bernama Helmi dan Heru, belum jelas peranya apa dalam hal pengerukan untuk mengambil hasil bumi, bernama emas.Heru dan Helmi kerap mendekati masyarakat dengan iming-iming membantu masyarakat yang tengah terkena bencana, namun disisi lain Helmi yang diduga berasal dari luar Aceh Tengah, mengeruk keuntungan.
Bukan saja Linge yang menjadi “pesona” bagi Helmi dan para toke emas Ileggal dibelakangnya. Wilayah Kecamatan Bintang (Gerpa) juga telah dimasuki alat berat juga Pamar.
Helmi yang dikonfirmasi melalui tertulis dan telepon selalu mengelak tidak pernah melalukan pengerukan emas dimanapun. Niatnya hanya membantu warga korban bencana.

“Tidak ada bang. Saya bukan mencari emas tapi membantu normalisasi sungai di Linge,” katanya beberapa hari lalu.
Lain itu Helmi dibeberapa media lokal juga “melawan” pemerintah dalam hal ijin tambang yang rumit harus dari Presiden Prabowo teriaknya.
Tidak hanya itu, para pengusaha tambang Ileggal ini sering kali bermain kucing-kucingan dengan aparat juga para wartawan diwilayah tengah ini. Mereka pandai memecah belah “gerakan” penolakan dengan menebar nilai rupiah.
Puncaknya kemarin, setelah mantan Ketua HMI Agus Muliara menyuarakan agar aparat hukum “mengusir” para pemain tambang Ileggal agar keluar dari aktivitas ileggal yang mereka lakukan.
Senada dengan permintaan Agus Muliara, akhirnya aparat turun ke Linge dan memusnahkan sarana alat mencari tambang dan juga pondok. Dan hal ini dibenarkan oleh AKBP Muhammad Taufiq,

“Benar bang, anggota atau tim gabungan menyisir wilayah sungai Linge dan membersihkan sisa-sisa pondok dan alat pencari tambang dengan membakar,” ucap AKBP Muhammad Taufiq.
Untuk memastikan apakah alat berat telah keluar, menurut Camat Linge Marhan, 15 Juli 2026. Alat berat dibeberapa lokasi sudah semua dibawa keluar oleh penambang liar.
“Sudah, kami sudah cek semua alat berat baik di Desa Jamat, Payung dan Gerpa semua sudah keluar,” kata Marhan.
Senada dengan pernyataan Marhan, sore kemarin, 14 Juli 2026 pandangan mata wartawan, beberapa alat berat yang diduga dibawa keluar dari Linge dan Gerpa parkir di salah satu Gudang (Depan Hotel Petro Gayo-red). Selain alat berat juga ada 2 kontainer yang diduga digunakan sebagai penyimpan alat.
Memang terkait itu belum terkonfirmasi kepada pemilik gudang yang diduga bernama Heru. Heru belakangan diduga sering berdampingan bersama Helmi dalam “rapat-rakat” bersama warga yang pro tambang Ileggal di wilayah Gayo.
Pekan lalu seorang warga Gerpa mengirimkan foto Heru dan Helmi dan warga sedang melakukan rapat yang diduga akan mengeruk hasil bumi Desa Gerpa, Kecamatan Bintang. Dan foto tadi tersebar di Media Sosial.
Penulis, JURNALISA