160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Pihak Kemenag Meminta Kontraktor Segera Selesaikan Bangunan 18 Kelas MTsN 1 BOM

TAKENGON, KABARGAYO | Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Takengon, yang terletak di Desa Bom Kecamatan, Lut Tawar sampai saat ini belum rampung dikerjakan diduga oleh PT. Barindo Prima Agung.

Ceritanya begini, sekolah ini masuk program Perbaikan Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pusat. Namun dilapangan kalimat diatas tadi tidak sebanding dengan kenyataan dilapangan.

MTSn berjumlah 18 lokal juga satu bangunan mushala sampai sejauh ini belum juga menampakkan kemajuan yang berarti. Padahal awal pengerjaan dimulai diakhir bulan 1 januari 2026 lalu.

Wewen salah seorang pekerja membuka tabir kelam para pekerja disana yang diduga belum menerima honor pekerjaan. Dan lain itu diduga sang mandor telah “hilang” membawa nilai uang jutaan ke Sumatera Utara.

Pihak pelaksana sampai saat ini belum berhasil dihubungi wartawan, karena “rumitnya” jalur birokrasi. Dari salah seorang bernama Amit mengaku sebagai konsultan bertempat tinggal di Kabupaten Nagan Raya.

Amit mengatakan, bahwa kegiatan itu terus dikebut dengan tenaga kerja yang ada. Bahkan akan ditambah dalam waktu dekat ini. “Kita akan tambah tenaga kerja lapangan,” sebut Amit, 8 Juli 2026.

Dilapangan (sekolah-red) dari pandangan mata wartawan dan pengakuan pekerja disana hanya ada 7 pekerja yang menangani 18 ruangan. Dan sementara kondisi bangunan secara keseluruhan baru selesai 40 persen.

“Mangkraknya” pengerjaan bangunan sekolah yang telah hampir 7 bulan lebih dikerjakan, menurut Amit (Konsultan) faktor bahan baku yang belum sampai ke lokasi.

“Bahan baku seperti seng masih dalam perjalanan. Kami pastikan akhir bulan Juli 2026 ini pasti selesai,” ujar Amit

Pihak direktur perusahaan PT. Barindo Prima Agung, Rizky Aimar juga saat dihubungi wartawan, setelah mengirimkan Tor pertanyaan melalui Whatshapp, sampai berita ini diturunkan belum menjawab konfirmasi wartawan.

Dari hasil lambatnya pengerjaan sekolah, berdampak kepada semangat para pelajar yang berjumlah diatas 700 jiwa lebih. Dimana saat ini para pelajar menumpang di sekolah setingkat lebih tinggi Madrasah Aliah Negeri (MAN) Takengon.

Kegiatan rehap sekolah tanpa plang nama ini diduga bernilai Rp.2,2 Miliar dan diduga sarat masalah dan diduga tanpa pengawasan ketat.

Pihak Kementerian Agama, Kemenag Aceh Tengah Wahdi meminta pihak pelaksana segera merampungkan pengerjaan sekolah, karena sudah (akan) memasuki ajaran baru.

“Kita minta pihak kontraktor segera menyelesaikan pengerjaan sekolah, selain sudah memasuki ajaran baru dan sudah terlalu lama belajar di sekolah lain,” ujar Wahdi beberapa hari lalu.

Penulis, JURNALISA

 

KABARGAYO.CO.ID ~ KRITIS, INDEPENDEN & TERPERCAYA

You might also like