Oleh: Isra Masjida
Beberapa hari yang lalu, angka usia saya genap bergeser ke angka 44 tahun. Sebuah fase di mana cermin kehidupan mulai memperlihatkan rona yang berbeda; amanah sebagai perempuan dan ibu berjalan beriringan dengan perputaran waktu yang terasa kian cepat. Di gerbang usia ini, sebuah pertanyaan besar mendadak menyergap batin: untuk apa sisa waktu yang ada?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam jebakan angka dan durasi rutin. Kita sibuk menghitung pertambahan usia atau mengkhawatirkan hal-hal fisik yang mulai berubah. Jebakan yang sama juga sering kali membius kita dalam menuntut ilmu. Kita kerap menghitung seberapa lama kita telah mengaji, seberapa banyak majelis taklim yang dihadiri, atau seberapa tinggi sekolah yang telah melahirkan lembar-lembar ijazah pengakuan keilmuan.
Namun, momentum Dzulhijjah tahun ini menyadarkan saya pada satu hakikat murni: hidup ini sejatinya bukan tentang durasi, melainkan tentang kontribusi.
Apalah arti deretan ijazah dan tahun-tahun panjang yang dihabiskan di atas bangku sekolah jika ilmu itu mandek menjadi pajangan semata? Nilai sejati dari sebuah ilmu bukanlah pada seberapa lama ia dipelajari, melainkan pada seberapa besar ia melahirkan perbaikan bagi kualitas diri dan kemaslahatan lingkungan. Apa gunanya usia yang panjang atau gelar yang berderet jika hanya menjadi ruang kosong tanpa makna?
Sebaliknya, betapa indahnya hidup yang barangkali ringkas secara hitungan kalender, namun meninggalkan warisan kebaikan yang abadi di hati sesama. Standar keberuntungan manusia ini telah digariskan oleh Rasulullah SAW melalui hadist:
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.”(HR. Tirmidzi).
Nabi tidak sekadar memuji umur yang panjang, melainkan umur yang berbanding lurus dengan kualitas amal (hasuna ‘amaluhu). Tanpa kemanfaatan, bentangan waktu hanyalah tumpukan angka yang melelahkan fisik dan memperberat pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Islam yang agung tidak membiarkan umatnya meraba-raba cara mengisi durasi tersebut. Allah SWT sengaja menciptakan ruang-ruang waktu khusus sebagai tempat akselerasi spiritual, salah satunya lewat sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Begitu dahsyatnya momentum ini, hingga Allah SWT bersumpah di awal surah Al-Fajr: “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
Mayoritas ahli tafsir, termasuk Ibnu Abbas RA, menyatakan bahwa “malam yang sepuluh” tersebut adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah. Secara durasi, sepuluh hari itu teramat pendek—ia datang dan pergi dalam sekejap mata. Namun secara nilai, Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini.
Di sinilah matematika Allah bekerja. Dia tidak menuntut kita beramal konstan selama ratusan tahun untuk meraih cinta tertinggi-Nya. Dia menyediakan jendela waktu yang singkat, namun menuntut kualitas pengorbanan terbaik. Melalui zikir, puasa, dan kepedulian sosial yang kita maksimalkan di hari-hari ini, kita dididik untuk memahami bahwa kepadatan makna jauh lebih berharga daripada bentangan waktu.
Kepadatan makna inilah yang dalam syariat disebut sebagai keberkahan hidup. Ada tautan indah antara kontribusi dan berkah. Berkah (barakah) berarti ‘ziyadatul khair”—bertambahnya kebaikan. Indikasi paling valid bahwa umur kita diberkahi adalah ketika waktu yang kita miliki—meski terasa sempit di tengah padatnya amanah harian—selalu terasa “cukup” dan produktif untuk melahirkan kemaslahatan bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.
Kontribusi yang lahir dari umur yang berkah ini kemudian diuji puncaknya pada ritual agung di akhir Dzulhijjah: puncak ibadah haji dan kurban. Ketika jutaan manusia berkumpul di Arafah dengan selembar kain ihram putih yang sama, semua atribut duniawi runtuh. Di hadapan Allah, tidak ada lagi yang peduli pada seberapa lama kita menjabat, seberapa tinggi pangkat golongan kita, atau seberapa mewah rumah yang kita tinggali.
Kebermanfaatan kita di dunia ternyata bukan semata diukur dari penambahan penghasilan atau naiknya status sosial, melainkan tentang dampak nyata dari kehadiran kita bagi orang-orang di sekitar. Yang tersisa di Arafah hanyalah jiwa yang bersiap membawa pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan selama di bumi.
Di saat yang sama, kita menyembelih hewan kurban sebagai simbol penyembelihan ego pribadi. Allah SWT telah menegaskan dalam surah Al-Hajj ayat 37 bahwa daging dan darah kurban itu tidak akan mencapai Allah, melainkan ketakwaan kita. Artinya, esensi kurban adalah sejauh mana kita mampu menundukkan sifat mementingkan diri sendiri, lalu mengubahnya menjadi pelayanan (khidmah) serta kegembiraan bagi sesama yang membutuhkan.
Tentu saja, melahirkan kontribusi yang tulus dan berkah tidak bisa instan. Ia harus dijemput melalui tiga gerbang utama: keikhlasan niat yang utuh agar amal memiliki daya hidup yang panjang; pemanfaatan waktu-waktu utama seperti Dzulhijjah sebagai momentum akselerasi; serta keberanian untuk melayani urusan orang lain. Sebab, Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.
Jalan pelayanan inilah yang membuat jejak hidup seseorang tidak akan mampu dihapus oleh kematian. Tengoklah Nabi Ibrahim AS. Beliau telah wafat ribuan tahun lalu, namun namanya abadi dalam setiap selawat shalat kita, dan syariatnya dihidupkan setiap kali Idul Adha tiba. Beliau memahat sejarah, bukan sekadar menumpang lewat di dalamnya.
Filosofi hidup ini dirangkum dengan sangat mendalam oleh Ibnu ‘Athaillah as-Sakamdari dalam kitab Al-Hikam: “Bisa jadi ada umur yang panjang rentang waktunya, namun sedikit kontribusinya. Dan bisa jadi ada umur yang pendek rentang waktunya, namun melimpah manfaatnya.” Beliau melanjutkan bahwa siapa yang dianugerahi berkah dalam umurnya, ia mampu menghasilkan kemanfaatan yang luar biasa dalam waktu yang sangat singkat.
Kita melihat kebenaran ucapan ini pada sosok Imam An-Nawawi yang wafat di usia muda, sekitar 45 tahun. Namun kitab karyanya seperti Riyadus Shalihin tetap menuntun jutaan umat hingga hari ini. Usia biologis beliau telah lama berhenti, namun “usia kontribusi” beliau terus berjalan melintasi zaman.
Momentum Dzulhijjah akhirnya datang sebagai lonceng pengingat bagi kita semua, tanpa memandang gender, usia, maupun profesi. Ini adalah waktu terbaik untuk berdiri di depan cermin diri dan bertanya: Apakah kita selama ini hanya sibuk menghabiskan umur, atau sedang berjuang meluaskan manfaat?
Mari kita ubah cara kita memandang sisa waktu. Jangan lagi meratapi seberapa cepat hari berlalu atau seberapa padat tuntutan peran yang sedang kita jalani. Di momen berharga ini, mari kita berhenti mencemaskan durasi, dan mulai fokus pada kontribusi. Karena pada akhir perjalanan kelak, yang dihitung bukan seberapa lama kita telah menghirup napas di bumi, melainkan seberapa banyak napas kita telah memberi arti bagi semesta.*