TAKENGON, KABARGAYO | Warga Umang Isaq, Kecamatan Linge keluhkan tanah dimana mereka mendapatkan Hunian Sementara jika hujan becek alias berlumpur.
Kondisi seperti ini terus dihadapi warga di Umang Isaq, lain itu sarana sekolah juga harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Said menggambarkan situasi terkini, warga yang masih berharap kepada pemerintah agar cepat “menormalkan” kondisi kehidupan warga disana.
Saat ini mereka memang terus bertahan dan tidak ada pilihan, mau kembali ke Desa Umang Isaq (Desa asal) sarana jalan dan infrastruktur menuju desa sangat “payah”. Dan akhirnya atas kesepakatan warga memilih “pindah” dipinggiran jalan negara membangun perkampungan baru.

Said juga mengatakan ada delapan orang belum mendapatkan hunian sementara. Menurut Said, tim verifikasi telah mendata terkait huntara. Namun sampai saat ini belum terealisasi.
Permasalahan masih kompleks setelah hampir satu tahun warga korban bencana. Dirinci Said, dirinya mengeluhkan kondisi generasi (anak-anak) di Umang Isaq menimba ilmu dalam satu ruangan.
“Ya semua anak-anak belajar dalam satu tenda. Padahal mereka berbeda-beda kelas,” keluh Said sambil mengatakan 35 jumlah anak-anak sekolah, 25 Juli 2026.
Said berharap ada perhatian serius dari pemangku kebijakan terkait kondisi lahan Huntara serta sarana belajar generasi Umang Isaq.
Samsul warga lainya, berharap bangunan hunian tetap segera terealisasi dikampung mereka.
Menurut satu sumber untuk bangunan hunian tetap saat ini sedang dilakukan pelelangan alias tender.
Penulis, JURNALISA