TAKENGON, KABARGAYO | Bencana Hidrometroelogi yang menerpa Kabupaten Aceh Tengah, November 2025 memang telah membawa duka bagi ribuan kepala keluarga, juga beberapa kelompok tani yang ada di Kecamatan Jagong Jeget.
Disana (Jagong Jeget-red) ada 44 Hektar lahan persawahan kini tinggal 16 hektar yang bisa digarap masyarakat. Kondisi ini membuat warga cemas akan kekurangan produksi gabah (padi) di Jagong Jeget.
Seperti yang disampaikan Fadlin Al Aksya, Camat setempat warganya menyampaikan di dua desa Kampung Gegarang dan Gelege Sari ada luasan 44 hektar sawah, namun sayangnya saat ini terjadi penyusutan.
“Awalnya 44 hektar namun sayangnya kini tinggal 16 hektar yang bisa digarap dengan hasil gabah sekitar 72 ton,” ujar Fadlin, 3 Juli 2026.
Hal ini, jelas Fadlin terungkap saat panen yang dilakukan bersama masyarakat Jagong di Desa Gegarang.
Menurut Camat Jagong, jika seluruh sawah digarap seluas 44 Hektar maka produksi padi Kampung Gegarang-Telege Sari Kecamatan Jagong Jeget menjadi sebesar 44 Ha x 4,5 Ton = 198 Ton sekali panen.
Melalui Camat Jagong, masyarakat meminta revitalisasi persawahan yang ada didesa mereka. “Ada 28 hektar sawah terlantar yang membutuhkan revitalisasi segera,” ujar Fadlin lagi.
Lain itu karena bencana lalu, sungai juga mengalami sedimentasi dan dibutuhkan penanganan segera. “Masyarakat kita juga meminta irigasi untuk mengairi persawahan,” jelas Fadlin lagi.
Masyarakat Jagong Jeget mengharapkan bantuan Hand Tractor untuk masa tanam di bulan November 2026 nanti.
Penulis, JURNALISA