TAKENGON, KABARGAYO | Prof. Ahmad Humam Hamid mengaku terenyuh melihat kondisi infrastruktur di wilayah Gayo. Kondisi tersebut dilihatnya dalam perjalanan setelah setahun bencana, namun belum ada perbaikan yang berarti.
“Saya melihat belum ada perbaikan yang berarti di Aceh Tengah. Jalan dan jembatan di jalan nasional harus disegerakan oleh pemerintah pusat,” ungkapnya di Warung SMEA Premium, Takengon, Jumat (3/10/2026).
Menurut Humam Hamid, penanganan wilayah tengah Aceh (Gayo) sebagai “jantung dan paru-paru” Aceh harus disegerakan. Kabupaten lain, sadar maupun tidak, sangat membutuhkan kebangkitan ekonomi wilayah pegunungan tengah Aceh ini.

Dengan bangkitnya seluruh ekonomi Gayo, kata dia, akan sangat berdampak pada perekonomian di wilayah pesisir.
Prof. Humam yang baru pensiun sebagai dosen ini juga berharap kepada pemerintah pusat agar dalam membangun jembatan di wilayah terdampak bencana harus dengan kekuatan lima kali lipat dari jembatan yang runtuh sebelumnya.
“Kenapa begitu, karena kita tidak tahu sepuluh atau lima puluh tahun ke depan akan terjadi bencana. Mudah-mudahan tidak. Tapi kita harus mempersiapkan diri untuk semua yang tidak kita duga akan terjadi,” jelas Humam Hamid.
Humam memberikan contoh di Aceh Tenggara, ada jembatan yang baru selesai dibangun kemudian kembali terbawa arus air.
“Saya menyampaikan ini karena sudah ada contoh. Jadi pemerintah harus memikirkan jauh ke depan segala kemungkinan. Tidak mungkin setiap lima tahun sekali kita membangun sebuah jembatan,” kata Humam.
Humam juga menyampaikan semua pihak harus mengingatkan pemerintah pusat, jangan sampai setiap bencana harus membangun jembatan. “Kita tidak memanas-manasi, tapi kenyataan yang terjadi,” katanya.

Wajar harga mahal di Aceh Tengah, karena kondisi jalan dan jembatan masih sulit dilalui mobil barang, jelas Humam yang datang langsung melihat kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat Aceh Tengah.
Pemerintah pusat harus cepat memulihkan infrastruktur dan akses di wilayah Gayo ini sebelum semuanya terlambat dan menjadi masalah baru.
“Jangan salahkan daerah ini inflasi karena barang masuk mahal tidak seimbang dengan barang keluar,” jelasnya di hadapan eksportir Kopi Arabika Gayo.
Penulis, JURNALISA