Opini – Isra Masjida
Dua peristiwa yang merayap di layar media sosial kita belakangan ini bukan sekadar rekaman kenakalan remaja. Ia adalah cermin retak yang sedang memantulkan wajah kita sendiri: dunia orang dewasa yang gagal dan tertidur lelap.
Pertama, video pertikaian fisik antarsiswa yang berlangsung brutal, sementara beberapa anak di sekitarnya hanya menonton dan merekam dengan ponsel tanpa ada satu pun yang tergerak melerai. Lalu disusul video Bupati yang mendapati barisan anak berseragam sekolah santai mengocok domino dan merokok di sebuah warung pada jam pelajaran.
Seketika, ruang publik digital kita meledak. Kolom komentar dipenuhi caci maki dan laknat, seolah-olah anak-anak itu adalah penjahat kawakan yang tak lagi berhak atas masa depan.
Namun, pernahkah kita menyadari bahwa dua video itu mungkin adalah cara Allah sedang mengguncang jiwa kita yang tertidur?
Firman Allah dalam Al-Qur’an mengingatkan kita: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-Rum: 41).
Kejadian yang viral itu dihadirkan secara terbuka, bahkan langsung di depan hidung penguasa—di hadapan Bupati yang turun ke lapangan. Ini bukan sekadar apesnya si anak, melainkan bentuk kasih sayang-Nya untuk menegur kelalaian kita, agar kita—para orang tua dan pembuat kebijakan—segera kembali berbenah.
Sebelum menunjuk muka anak-anak itu, marilah kita jujur melihat cermin. Sungguh, ada ketidakadilan yang menyayat nurani: kita menuntut anak-anak ini tampil tanpa cela di tengah lingkaran orang dewasa yang saban hari mempertontonkan kenakalan.
Saban hari, anak-anak menyerap kepalsuan dan kebusukan lingkungan di sekitarnya. Mereka menonton orang dewasa santai melakukan kejahatan yang jauh lebih mengerikan: korupsi yang digelapkan, suap-menyuap di balik meja, manipulasi aturan, judi online yang menggerogoti rumah tangga, KDRT di balik dinding rumah, hingga aksi perzinahan yang dipamerkan terang-terangan tanpa rasa malu.
Jika ditakar dengan jujur, skala dan daya rusak kejahatan orang dewasa jauh lebih raksasa. Lalu, ketika anak-anak meniru keburukan itu dengan cara yang polos, kaku, dan vulgar di warung sekolah, mengapa kita paling nyaring menghujat? Menghujat mereka adalah cara paling murah bagi orang dewasa untuk melarikan diri dari rasa bersalah karena telah gagal menjadi teladan.
Padahal, keselamatan dan pembentukan karakter seorang anak tidak pernah bisa ditopang oleh satu pihak saja. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Ada ungkapan bijak yang sangat relevan dengan situasi ini: butuh orang sekampung untuk mendidik dan membesarkan seorang anak. Artinya, pengasuhan tak pernah selesai di batas pintu rumah. Ketika seorang anak melangkah ke luar, seluruh mata, kepedulian, dan keteladanan warga kampung itulah yang menjadi benteng pelindungnya.
Mari kita bicara jujur dan terbuka soal rokok pada anak sekolah, misalnya. Orang tua di rumah mungkin sudah setengah mati melarang. Namun begitu anak melangkah keluar rumah, penjagaan itu runtuh total.
Tahukah kita? Pemerintah sebenarnya sudah menerbitkan PP Nomor 28 Tahun 2024, yang tegas melarang penjualan rokok kepada anak sekolah dan melarang warung rokok beroperasi dalam radius 200 meter dari sekolah. Namun di lapangan, aturan ini tak ubahnya macan kertas yang mati angin. Warung-warung tetap santai mengecer rokok batangan kepada anak berseragam demi uang receh tanpa pengawasan dan sanksi tegas.
Dan ingatlah, ini baru perkara sebatang rokok. Kita belum bicara tentang jeratan judi online, pornografi, hingga obat-obatan terlarang yang mengepung mereka. Jika dalam perkara rokok saja lingkungan kita sudah bobol, bagaimana mungkin kita berharap anak-anak sanggup bertahan di tengah kepungan godaan zaman?
Sungguh, anak-anak ini sangat malang. Mereka ibarat anak ayam yang dilepas sendirian di tengah rimba liar—tanpa perlindungan, petunjuk, dan kompas moral.
Saat mereka terperosok karena bingung mencari teladan, sangat tega rasanya jika kita justru datang paling depan membawa batu untuk menghajarnya. Merespons kenakalan mereka dengan pembunuhan karakter di media sosial adalah bentuk kejam yang lain.
Kita perlu berguru pada kedewasaan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melarang keras sahabatnya menghujat orang yang tergelincir dosa: “Janganlah kalian menjadi pembantu setan untuk menghancurkan saudara kalian sendiri.” Sayangnya hari ini, kita justru beramai-ramai menjadi pembantu setan—menghabisi mental anak-anak yang tersesat, bukannya merangkul mereka pulang.
Sejarah dan ajaran agama memberi tahu satu hal fundamental: hidup anak-anak ini baru tentang koma, belum sampai pada titik. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat.” Memberi sanksi yang mendidik itu wajib, tetapi membantai karakter mereka hanya akan menutup pintu tobat dan membangun benteng dendam.
Dua video viral itu adalah panggilan evaluasi total dari langit. Dalam prinsip perbaikan diri, ajaran agama kita mengajarkan untuk bertobat sebelum mencari obat. Sebelum sibuk menuntut sanksi atau menyalahkan pihak lain, kita—orang dewasa—harus menunduk, bertobat, dan memulai perbaikan dari diri sendiri (ibda’ binafsik).
Anak-anak ini bukan musuh, melainkan cermin dari kelalaian kita yang sedang tersesat. Sudah saatnya kita menahan diri dari menghakimi, memohon ampun atas pembiaran bersama, dan mengulurkan tangan untuk merangkul mereka kembali ke jalan yang benar.