Opini, Isra Masjida
Di depan mimbar dan panggung publik, seseorang bisa dengan fasih membicarakan keadilan, kerendahan hati, dan pengabdian. Namun, penguji sejati dari karakter manusia bukanlah penderitaan atau kemiskinan, melainkan wewenang.
Saat amanah diletakkan di pundaknya, kita sering menyaksikan tragedi yang berulang: kebaikan yang dulu tampak begitu alami perlahan memudar, digantikan oleh kesombongan, kecurigaan, ketakutan atas kritik, dan dorongan untuk menundukkan sesama.
Kekuasaan pada hakikatnya jarang sekali mengubah seseorang secara mendadak. Ia bekerja seperti cermin pembesar yang menelanjangi dan memperjelas cacat karakter yang dulu tersembunyi.
Dalam pengamatan atas perilaku manusia, wewenang jangka panjang yang lepas dari kontrol spiritual melahirkan kebiasaan jiwa yang berbahaya. Begitu seseorang berada di puncak, terjadi pengikisan rasa empati yang amat pekat. Ia menjadi buta akan kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri.
Dari sanalah sikap anti-kritik bermula. Ada ilusi keliru bahwa dirinya adalah penjelmaan dari kebenaran itu sendiri. Mengkritik keputusannya dianggap sebagai serangan pribadi, bentuk pengkhianatan, atau pembangkangan bawahan.
Pemegang wewenang dalam kondisi ini mulai mengisolasi diri di dalam ruang karantina pemikiran, hanya mau didampingi oleh lingkaran penyorak yang selalu mengiyakan apa saja demi menyuapi egoraga sang pejabat dengan pujian dan pembenaran palsu.
Titik paling rawan dari terfitnahnya seseorang oleh kedudukan adalah ketika ia kehilangan kesadaran akan batas-batas wewenangnya—baik batas etis maupun batas struktural. Garis tegas antara hak publik dan kepentingan pribadi perlahan kabur. Wewenang untuk membina atau mengoreksi yang seharusnya dibatasi oleh garis komando dan regulasi formal, sering kali melimpah keluar jalur secara liar.
Kekuasaan seolah menjadi modal privat yang bisa diintervensi atau diwakilkan oleh lingkar terdekat yang sama sekali tidak memiliki legitimasi jabatan. Ketika orang-orang di luar rantai komando resmi mulai ikut mengatur, mengintervensi, dan mengoreksi ranah teknis yang bukan ranah wewenangnya, pada detik itulah tata kelola sedang dirusak oleh Ilusi kepemilikan pribadi atas jabatan.
Ketika ketakutan akan kehilangan posisi berpadu dengan paranoia yang berlebihan, kekuasaan makin bergeser fungsinya: dari alat pengabdian menjadi senjata pembalasan.
Tata kelola kepemimpinan berubah menjadi ajang pelampiasan dendam masa lalu untuk membungkam para pengkritik dan merendahkan siapa saja yang dulu pernah dianggap meremehkannya. Ini adalah bentuk kerapuhan jiwa yang terbungkus oleh keangkuhan kedudukan.
Namun, tragedi kejatuhan moral akibat wewenang bukanlah takdir yang tak terhindarkan. Sejarah mencatat bahwa kekuasaan tidak selalu merusak jiwa—apabila ia dikemudikan oleh akar tauhid yang menghujat dalam dada. Kontras terbaik dari fenomena ini dapat kita temukan dalam jejak langkah dua sahabat mulia: Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Sebelum memangku kepemimpinan tertinggi, Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang amat lembut, halus jiwanya, mudah menangis, dan amat menonjol dalam diplomasi. Namun, ketika amanah kepemimpinan diletakkan di pundaknya dan keutuhan nilai-nilai keagamaan terancam oleh kelompok yang menolak zakat, kelembutan itu tidak berubah menjadi kelemahan.
Tauhid memunculkan keberanian dan ketegasan mahadahsyat dalam dirinya untuk berdiri tegar melangkah menjaga amanah bersama, tanpa sedikit pun didasari rasa benci atau dendam pribadi.
Sebaliknya, perjalanan jiwa Umar bin Khattab menunjukkan arah penjinakan yang luar biasa. Sebelum menjadi pemimpin, Umar dikenal sebagai pribadi yang keras, berapi-api, temperamental, dan membuat lawan gentar. Namun, ketika ia dilantik menjadi Amirul Mukminin, ketegasan wataknya tidak serta-merta menjelma menjadi kesombongan berkuasa.
Kekuasaan di bawah naungan tauhid justru melunakkan hatinya; ia menjelma menjadi pemimpin yang amat pekat rasa empatinya, berpatroli malam seorang diri untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan, dan senantiasa menangis karena takut melangkahi batas wewenang di hadapan Allah.
Umar bahkan pernah memadamkan lampu fasilitas umum di ruang kerjanya ketika sang putra datang hanya untuk membicarakan urusan internal keluarga—sebuah gambaran nyata betapa keteguhan iman memagari rapat batas antara wewenang posisi dan kepentingan pribadi.
Kedua sosok ini membuktikan bahwa kekuasaan tidak memudarkan kebaikan mereka, melainkan mengubah karakter dasar mereka menjadi energi pengabdian dengan rasa dan kematangan jiwa yang jauh lebih dalam.
Kekuasaan tanpa dituntun oleh kesadaran spiritual hanya akan melahirkan sosok yang arogan dan pembalas dendam. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Kekuasaan yang dipandu oleh tauhid justru membalikkan sifat dasar manusia demi kebenaran: ia membuat sosok yang paling lembut sanggup berdiri tegar menerjang badai ketidakadilan, dan membuat sosok yang paling keras berlutut menangis di hadapan beban penderitaan orang-orang yang dipimpinnya.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat dengan jujur: siapa pemegang wewenang yang menggunakan jabatannya untuk membesarkan jiwa dan melayani, dan siapa yang membiarkan dirinya terkerdilkan oleh kedudukan karena menjadi budak dari dendam dan kesombongannya sendiri. *