TAKENGON, KABARGAYO | Di tahun 1990-an, suara musik band hampir tidak pernah absen di Kabupaten Aceh Tengah. Dari ruang-ruang tertutup, warung kopi, hingga panggung terbuka, alunan gitar dan tabuhan gendang menjadi denyut nadi pemuda Gayo.
Hampir tidak ada waktu tersisa bagi mereka selain bermusik. Gitar dipetik, drum dipukul, vokal dilatih. Energi itu tidak sia-sia. Pemuda Aceh Tengah saat itu sangat produktif dan selalu hadir di festival-festival musik, baik di tingkat kabupaten, provinsi Aceh, hingga Sumatera Utara.
Nama-nama band lokal jadi perbincangan. Panggung jadi rumah kedua. Musik Rock, musik klasik, sampai lagu-lagu ciptaan sendiri menghiasi ruang dengar masyarakat. Era itu adalah masa keemasan bagi khazanah musik lokal Gayo.

Tapi kini, hingar bingar itu berganti. Yang tersisa hanya sunyi. Gedung-gedung yang dulu disediakan pemerintah dan swasta untuk latihan dan pertunjukan kini tampak kosong. Petikan gitar yang dulu jadi teman sore di kedai kopi, sudah jarang terdengar.
Lalu kemana anak-anak band dan pemain musik itu sekarang?
Pertanyaan itu masih menggantung. Apakah mereka berhenti karena tidak ada ruang? Apakah panggung yang dulu ramai kini kalah dengan gadget dan hiburan digital? Atau karena ekosistem musik lokal yang tidak lagi didukung?
Beberapa musisi senior yang masih bertahan bilang, bukan semangat anak muda yang hilang. Tapi wadahnya yang menyusut. Festival jarang digelar. Studio latihan mahal. Apresiasi dari pemerintah dan swasta untuk musik lokal pun minim.
Padahal, di era 90-an, musik jadi jembatan pemuda Gayo untuk berekspresi, berkompetisi, bahkan mengharumkan nama daerah. Dari Takengon, lahir musisi-musisi yang tampil di Banda Aceh, Medan, bahkan membawa nama Gayo ke panggung yang lebih besar.
Kini gedung-gedung itu masih berdiri. Tapi tanpa suara. Tanpa energi anak muda yang dulu memenuhi setiap sudutnya.
Mungkin saatnya kita bertanya lagi: siapa yang akan menghidupkan kembali alunan gitar di Tanah Gayo? Siapa yang akan mengisi kembali kekosongan itu dengan lagu-lagu baru dari anak-anak negeri kopi ini?
Karena selama masih ada pemuda, seharusnya musik tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk dibunyikan lagi.
Boby salah satu anggota personil grup Band mengatakan, redupnya grup band di Gayo dikarenakan banyak faktor. Pertama generasi 90 saat ini tengah disibukan dengan urusan keluarga masing-masing untuk Ekonomi.
“Dulu generasi ini aktif dan kerap kali membuat pertunjukan dan perlombaan musik. Namun seiring waktu dan perubahan jaman, musik yang dimainkan anak-anak kami akui mulai redup,” ucap Boby penggemar Good Bles, 12 September 2026.
Lain itu disampaikan Boby saat ini generasi 90 an lebih aktif bermain perorangan mengisi musik pada Cafe-cefe yang ada di Aceh Tengah.
Penulis, JURNALISA