TAKENGON, KABARGAYO | Sebagian warga Kota Takengon memanfaatkan kayu yang hanyut atau dibawa air sungai Peusangan untuk dimanfaatkan sebagai Kayu Bakar.
Kayu hanyut dari Danau Lut Tawar Takengon berasal dari longsoran Desa Mendale 26 November 2025 lalu.
Masyarakat yang kesulitan mencari GAS untuk memasak saat ini beralih mengunakan Kayu Bakar untuk aktivitas dapur.
Selain Kayu yang hanyut, masyarakat pedagang juga menyediakan Kayu (kering) yang dijual dipinggiran jalan Kota Takengon.
Salah seorang warga penjual Kayu, Ardi mengatakan dirinya menjual Kayu karena banyak permintaan dari warga yang kehabisan GAS.

“Saya siapkan karena masyarakat butuh Kayu untuk kebutuhan rumah tangga. GAS mulai langka,” kata Ardi, 16 Desember 2025.
Satu ikat Kayu (7 belah) dijual dengan harga Tp.15 ribu dan Rp 25 Ribu tergantung banyak belahan Kayu untuk bahan bakar.
Salah seorang warga lainya yang mengambil kayu hanyut dari Danau Lut Tawar mengatakan, Kayu dibutuhkan dirumah karena GAS sangat langka “bahkan tidak ada dijual dipasar-pasar,” ucap Muna sambil menarik salah satu Kayu hanyut.
Kayu hanyut yang basah, disampaikan Muna harus di jemur lagi, baru bisa dipakai. “Ya bang, harus dijemur lagi baru digunakan,” tutur Muna sesekali menggigil kedinginan.
Sebagian lagi berdiri dipinggir sungai sambil memegang Kayu sebagai galah untuk meraih kayu yang hanyut.
Penulis, JURNALISA