TAKENGON, KABARGAYO | Bandara Rembele diresmikan Presiden Joko Widodo tahun 2016 silam. Sekaligus perpanjangan “rum way” Bandara.
Persiapan bandara ini di “rancang” tiga bupati terdahulu, Beni Banta Cut Bukhari Isaq serta terlaksana di masa Bupati Aceh Tengah Mustafa M Tamy.
Cita-cita pendahulu ini sangat mulia. Mereka sudah memikirkan wilayah tengah yang dikelilingi pegunungan, harus siap dalam menghadapi sutuasi bencana (Fasilitas bandara). Seperti yang hari ini dan beberapa tahun lalu dikita hadapi (gempa gayo).
Bandara Rembele menjadi satu-satunya tumpuan akses melalui udara untuk pasokan logistik (bencana) serta arus lalu lintas warga.
Hari ini penerbangan Bandara Rembele terlihat sangat sibuk. Dalam satu jam ada 4 penerbangan begitu juga sebaliknya.
Pesawat Carteran, milik pemerintah (TNI AU) dan pesawat pribadi datang membawa logistik untuk menyembuhkan luka korban bencana.
Sampai petani Cabe lakukan kontrak pribadi menyewa armada pesawat membawa Cabe ke luar hingga Jakarta Ibu Kota Jakarta.
Aceh Tengah dan Bener Meriah, benar benar dicoba dalam tahun 2025 ini. Bencana sangat masif terjadi sehingga puluhan ribu warga terkurung dipinggiran-pinggiran desa dengan kondisi memprihatinkan.
Rembele, bagaikan setitik air di padang pasir. Pemikiran tiga bupati terdahulu, hari ini dirasakan sudah oleh ratusan ribu warga dua kabupaten ini.
Seperti nama REMBELE. Dia adalah buah yang tumbuh disekitar lahan bandara dan sangat enak diemut.
Rembele mempunyai panjang ran way 2.250 x 30 meter yang dibiayai APBN.
Kini tidak hanya pesawat berbadan kecil mendarat, pesawat hercules berbadan besar pembawa logistik mendarat sudah.
Rembele menjadi “nafas” menghadapi bencana ampuh, peninggalan tiga bupati terdahulu. Alfatihah, Beni Banta Cut Bukhari Isaq dan Mustafa Tamy. Semoga amal ibadah (mereka) diterima disisiNya.
Penulis, JURNALISA