TAKENGON, KABARGAYO | Mereka lelah, iya. Sebulan lebih liputan juga menguras pikiran dan tenaga. Eh…tetiba musim durian dibeberapa kampung yang terkena bencana.
Alih profesi tidak. Menghilangkan lelah dan butuh suasana baru. Semua dicoba untuk tegaknya “keadilan” serta dapur tetap berasap.
Beli ampalang di beberapa tempat lokasi berbuah. Erwin dengan slogan “Yang Penting Pas Tancap Gas”. Ini jaman memacu diri bukan pamer diri. Lambat tergilas, memacu diri lebih baik dalam suasana apapun, demikian Erwin.
Mereka saat ini “tiga serangkai” Erwin, Karim serta Raman. Ketiga Wartawan ini sering terlihat di Gelora untuk merumuskan managemen media serta liputan terkini.
Pokoknya mereka happy dalam setiap suasana. Raman seorang wartawan yang sudah berpredikat Utama, mengambil jenjang tersebut dalam situasi Aceh Tengah yang tengah Porak Poranda.
Namun alhamdulillah oleh panitia UKW di Lhokseumawe dirinya diberi predikat Wartawan Berdedikasi tinggi dalam menimba ilmu kewartawanan. Begitu juga Erwin dan Karim.
Patungan untuk modal bisnis, tentu menjadi tangungjawab penting bagi masing-masing sosok ini.
Namun Erwin diberi “mandat” penuh sebagai bendahara, Karim dan Raman sebagai penghubung bagi konsumen.
Tak ayal lagi yang belanja masyarakat dari Toweren, tak banyak. Pemuda tadi setelah menghabiskan 3 buah besar menambah satu karung lagi.
“Nambah lima buah lagi, bang,” kata pemuda dengan mengunakan sepeda motor besar jenis Honda.
Menurut Karim harga masih terjangkau. Satu buah Rp.20 ribu. “Harga kawan-kawan demi kawan-kawan,” ungkap Karim sambil berlalu kekeh.
Perjuangan ini berat kawan. Bergerak untuk kepercayaan kawan demi kawan-kawan, sambungnya lagi sambil bergerak mengantar orderan.
Lokasi mangkal jualan durianpun sangat strategis dari “Markas Wartawan Gelora” depan Simpang 1001 Takengon. Yok!…buruan kehabisan, berbagai varian rasa, mentega, tembaga, gula rasa serta lainya.
Penulis, JURNALISA