160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Bencana November 2025, Reje Mahyudin, “Dana Desa Dialihkan Intuk Ketahanan Pangan dan BUMK Terdampak”

TAKENGON, KABARGAYO | Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Arul Pertik, Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah, mengalami kendala serius pada tahun 2025 akibat tingginya curah hujan yang disusul bencana alam pada November lalu. Dampaknya, usaha budidaya cabai yang ditanam sejak awal Oktober 2025 mengalami gagal panen.

Reje Kampung Arul Pertik, Mahyudin, menjelaskan bahwa tanaman cabai yang dikelola melalui program BUMK mengalami kerusakan akibat faktor cuaca ekstrem.

“Curah hujan sangat tinggi pada akhir 2025. Tanaman cabai menjadi keriting, layu, bahkan mati. Ini murni karena faktor alam dan bencana yang terjadi saat itu,” ujar Mahyudin, 11 Pebruary 2026.

BUMK Arul Pertik tahun 2025 diketahui menerima alokasi dana desa sebesar Rp.150 juta. Dana tersebut diperuntukkan bagi pengembangan usaha kampung, termasuk sektor pertanian cabai sebagai bagian dari program ketahanan ekonomi masyarakat.

Namun, menurut Mahyudin, tidak seluruh dana tersebut terserap untuk kegiatan budidaya karena kondisi darurat yang melanda desa November 2025.

“Saat bencana terjadi, kondisi masyarakat sangat kritis. Kami mengambil kebijakan untuk menggunakan sebagian sisa anggaran guna membantu warga terdampak, seperti membeli sembako, beras, dan kebutuhan pokok lainnya demi ketahanan pangan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil berdasarkan musyawarah dan pertimbangan kebutuhan mendesak masyarakat saat situasi darurat. Penggunaan anggaran tersebut, kata dia, dilakukan untuk kepentingan warga dan akan dipertanggungjawabkan sesuai mekanisme yang berlaku.

BUMK Tidak Fakum, Hanya Terkendala Cuaca. Mahyudin juga membantah anggapan bahwa BUMK Arul Pertik tidak lagi berjalan. Ia memastikan bahwa operasional BUMK tetap aktif, meskipun menghadapi tantangan akibat cuaca ekstrem dan dampak bencana.

“Kondisi BUMK bukan fakum. Masih berjalan, hanya saja terkendala cuaca dan bencana. Ini menjadi pelajaran awal bagi kami untuk evaluasi dan perbaikan ke depan,” tegasnya.

Ia berharap kegagalan panen tersebut tidak menjadi alasan untuk menyerah. Menurutnya, kegagalan akibat bencana merupakan risiko yang harus dihadapi dalam sektor pertanian.

“Kalau bisa diulang, ya kita ulang kembali. Kegagalan kemarin akibat bencana. Jangan menyerah, kita kerjakan lagi dengan lebih sungguh-sungguh,” ujarnya.

Target Jangka Panjang, Lahan 10 Hektare untuk Kesejahteraan Warga
Ke depan, Pemerintah Kampung Arul Pertik memiliki rencana pengembangan lahan pertanian seluas 10 hektare yang diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat secara kolektif.

“Harapan kami, desa Arul Pertik memiliki lahan desa kurang lebih 10 hektare agar bisa dimanfaatkan masyarakat dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga,” tambah Mahyudin.

Program tersebut, lanjutnya, akan dirancang secara lebih matang dengan memperhatikan aspek mitigasi risiko bencana, perencanaan teknis pertanian, serta pengelolaan anggaran yang transparan dan akuntabel.

Sebagai informasi, hingga berita ini ditayangkan, belum ada laporan resmi terkait temuan pelanggaran dalam pengelolaan BUMK Arul Pertik. Pemerintah kampung menyatakan siap terbuka terhadap evaluasi dan pengawasan sesuai regulasi yang berlaku.

Penulis, JURNALISA

KABARGAYO.CO.ID ~ KRITIS, INDEPENDEN & TERPERCAYA

You might also like